Bubble Tea

seulhun

.

Dua gelas bubble tea untuk diminum bersama di bundaran taman kota sebelum matahari terbenam. Cuma itu yang Sehun pinta pada Seulgi sebagai hadiah ulang tahunnya.

.

.

Jika bukan karena adat permohonan per tahun Sehun, Seulgi bakal lebih memilih menonton kelanjutan episode tayangan drama dari pada berdiri di depan kasir seperti sekarang.

Dia memakai jam tangan digital yang sudah menunjuk pukul tujuh lebih seperempat. Tenggelamnya mentari di Kota Seoul pukul tujuh lebih lima puluh lima. Artinya waktu menjelang matahari terbenam tinggal empat puluh menit. Tiga pengunjung lain telah mengantre di belakang Seulgi. Ia mengapit bon pembayaran di sela bibirnya, lantas beranjak setelah mengambil dua gelas mika berisi minuman pesanan Sehun, dan mendorong pintu kaca menggunakan bahu untuk keluar.

Tiba-tiba, terdengar suara tembakan menggelegar.

Seorang pemuda dengan kepala bersimbah darah terkapar. Seulgi melihat dua pria berjaket hitam berboncengan dengan motor melaju kencang; seorang yang dibonceng tampak menggenggam senapan.

Orang-orang banyak berteriak dan berhambur memasuki pertokoan terdekat; termasuk kafe yang sedang disinggahi Seulgi. Tubuhnya oleng ditabrak pengunjung yang bergerombol datang. Isi gelas bubble tea di tangan kanannya tumpah. Tetapi pandangannya lebih simpati pada pemuda yang mengejang di tepi jalan.

Seulgi merogoh saku celana. Dikeluarkannya ponsel dan mengetuk-ketuk layar menggunakan tangannya yang gemetar sekaligus basah dan lengket.

“Anda terhubung dengan kantor kepolisian Seoul. Ada yang bisa kami bantu?”

“I-itu … dia … ada seseorang yang tertembak … tolong dia.”

“Mohon Anda berbicara lebih jelas, Nona.”

“S-saya Seulgi! Ada seseorang yang tertembak! Tapi pelakunya sudah pergi. Bagaimana ini? Kami butuh keamanan dari polisi dan bantuan dokter, Pak!”

“Tenangkan dirimu, Nona. Sekarang beritahu kami posisi Anda sekarang.”

“Di depan kafe di Distrik Gangnam! Kafe Bubble Pop dekat perempatan! Tolong sekalian kirimkan ambulans juga. Darahnya keluar banyak sekali. Apakah bisa?”

“Baik, kami akan segera datang dan bekerjasama dengan pihak rumah sakit terdekat, Nona, tolong jangan panik.”

“Cepatlah, Pak!”

Lalu dia berlari membelah kerumunan beberapa orang yang berdiri mengitari korban. Bagaimanapun kucuran darahnya harus dihentikan. Setiba di baris kerumunan terdepan, matanya membelalak begitu menemukan sesosok pemuda jangkung yang merobek kausnya untuk memerban luka kepala sang pemuda malang. “Oh Sehun! Sejak kapan kau di sini?”

“Sudah menghubungi polisi?”

“Sudah! Ambulans juga sebentar lagi datang.”

Good girl.”

Semenit kemudian sirine mobil ambulans bergema; bersamaan saat Sehun selesai mengikat kain perbannya. Tiga orang pria dan satu wanita berbaju putih keluar dari sana; salah satu pria dikenal sebagai dokter dari penampilannya yang mengenakan jas dan menggantung stetoskop di lehernya. Pria pembawa stetoskop langsung menghampiri korban, memeriksa kain yang terikat di kepalanya dengan dahi mengerut.

“Kau yang melakukan ini?”

Sehun yang masih bertinggung di sisi korban menjawab,“Ya, Pak.”

“Kerja bagus.”

Sehun tersenyum mendapat tepukan dua kali pada bahunya. Kemudian dokter itu memerintah tiga perawat yang datang bersamanya untuk mengangkat korban ke atas brankar dan segera mengangkutnya ke dalam ambulans.

Kala itu bertepatan dengan  dua mobil polisi tiba. Dua petugas polisi keluar dari masing-masing mobil. Berpencar dua orang menghampiri sang dokter, dan dua lainnya bergabung ke dalam kerumunan orang-orang—yang langsung diberi jalan oleh mereka—sambil berseru:

“Di antara kalian, siapa saksi yang melihat runtutan kejadian tadi?”

Hening.

Sekerumun orang tersebut saling menatap satu sama lain. Saling menunggu seorang pemberani yang mengajukan diri sebagai relawan menjadi saksi. Kiranya dua menit hingga sang polisi bersuara tegas lagi:

“Kalau begitu, siapa tadi yang menghubungi kami? Tolong cepat tunjukkan dirimu!”

Napas Seulgi tertahan sembari lambat laun mengacungkan tangan kanan.

“Kau?”

“Tapi saya tidak melihat runtutannya dari awal, Pak.”

“Tapi kau berada di tempat kejadian dan melihatnya secara langsung, kan?”

“Itu … ya,” jawabnya sambil mengangguk. Menatap petugas polisi dengan gementar bola matanya.

“Ikut kami ke kantor.”

“Ijinkan saya ikut juga, Pak!”

***

Seulgi ditemani Sehun duduk menghadap punggung monitor komputer. Setiap dia menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan berat, Sehun selalu menyentuh lengannya dan tersenyum. Mengingatkan Seulgi akan perkataannya sewaktu dalam perjalanan tadi: tidak semua polisi bertindak biadab, di antara mereka lebih banyak yang beradab. Di balik komputer itu terdapat seorang pemuda berkacamata bening tengah mengetik.

“Sebelum kita mulai, bisa kau taruh dulu minumanmu?”

Pemuda berkacamata menuding tangan kiri Seulgi yang masih menggenggam segelas Bubble Tea. Gadis itu sontak meletakkannya di ruang kosong sebelah monitor.

“Sekarang, siapa nama kalian?”

Baru Seulgi membuka mulut, Sehun menyahut:

“Oh Sehun dan Kang Seulgi.”

“Usia?”

“Masuk dua puluh dua tahun ini.”

“Jadi, bagaimana kronologisnya?”

***

“Terima kasih sudah menemaniku sampai sini.”

Langit gelap menyambut Seulgi keluar dari kantor polisi bersama Sehun yang menyedot Bubble Tea. Tepi bawah kaus oblong Sehun yang robek membuat bagian perutnya agak terekspos; Seulgi mengancingkan tiap buah baju mantel pemuda itu begitu melihatnya.

“Kau memang yang terbaik.” Sehun tersenyum.

“Hanya karena hari ini ulang tahunmu.”

“Kau memang bisa diandalkan.”

Ugh!

“Kau memang sangat cantik.”

“Hentikan.”

“Kau lucu saat tersipu.”

Seulgi selesai dengan kancing terakhir lantas dia mendongak menatap Sehun. “Mati saja kau.”

“Kang Seulgi!”

“Apa lagi?”

“Hari ini terakhir kali aku membiarkanmu pergi sendiri.”

.

.

-end-

Advertisements

8 thoughts on “Bubble Tea

    1. Halo alissa! Terharu ada yang baca dan komen dan sukaa 😂 sempet kaget ada seulhun shipper yg kesasar sampe sini tbtb wkwkwk. Dan aku juga suka mereka ofc bcs they’re such cuties huhu.Terima kasih yaa! Aku bella dari garis 97 salam kenal 😀

      Like

  1. Aku juga terharu akhirnya ada yg buat ff seulhun 😂 soalnya kan jarang tuh ada ff seulhun keseringan nemunya sehun sama krystal. Iya nih gk tau kok bs kesasar sampe sini 😅. Bener emang mereka cute abis😍. Btw line aku 00 berarti panggilnya apa?? Kak bella, eonni, or ??

    Like

  2. Halooo kak Bella! Hani di sini, garis 01, salam kenal! ❤

    ini pertama kalinya aku baca fic-mu dan aku langsung jatuh cintaaa! ❤ ihh Sehun-Seulgi lutjuk banget asliii. awalnya kukira ini bakalan full of fluff tapi terus ada tragedi penembakan…….WOW KOK AKU KAGET????? HAHAHA. nggak nyangka banget serius, aku ngebayangin jadi seulgi pasti panik abis yhaa wkwkwk :3

    terus….yeaaayyy! endingnya manis syekaliii aku gemesshh sehun minta dicubit ❤ mau dong doi kayak sehun satuuu huehue.

    semangat terus yaa kak! keep nulis-nulis cantiikk! ❤

    Like

    1. Halo haaaan! Heee tadi aku belum selesai ngetik udah kepencet duluan jadi nulis ulang hahaha udah notice belum komenku tadi? Wkwkwkwk 😂

      Yaampun seneng aku kalo ada yang seneng giniiii(?) aku juga jatuh cinta heee sama tulisanmu ih!❤ ini sebenernya pas lagi gj-gj terus kepikiran pengen nulis seulhun terus jadilah runtutan kegajean ini 😂

      Siapa pula yaaa yang nggak pengen pesen sebungkus sehun biar bisa dibawa pulang hahahaha aku jugaa! Wkwkwkwk

      Makasih sudah mampir ya haaan❤ kamu keep nulis-nulis ketje jugaa!❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s