Truth Or Dare

Truth Or Dare

.

Bermula dari ide Leo yang menurut Joy telah basi.

.

Dua jam setelah matahari transit melintasi meridian langit memang waktu paling tepat untuk tidur siang. Ditambah perpaduan sastra klasik yang didongengkan Mrs. Anderson semakin membuat pelupuk Joy yang menetap di deret bangku terujung belakang kian berat. Walau awalnya dia berusaha mendengarkan, tapi percuma pikirannya tak sanggup mencerna keindahan kosakata Kahlil Gibran. Sudah beberapa kali kepalanya terpeleset dari telapak tangan yang menopangnya dan hampir membentur meja.

Hampir.

Untungnya sebatas hampir.

Hingga mimpi buruk menyambangi realitas Joy ketika sesuatu menyenggol sangga tangannya dan menyebabkan jidatnya benar-benar menjedot kayu meja.

“Aduh!”

“Bagaimana tidurmu, Joy? Nyenyak?”

Cibiran Mrs. Anderson dan gelak kawan-kawan menjadikan Joy gelagapan; mengucek matanya kasar dan menyingkirkan anak rambut yang menjuntai di wajahnya. Pipinya bersemu merah dan bibirnya menguncup tampak menanggung malu. Apalagi ketika dia menyadari sepasang mata cokelat pekat serta senyuman kecil milik Sean—lelaki penghuni bangku pojok terdepan yang berhadapan langsung dengan meja Mrs. Anderson.

Seketika, wajahnya makin terbakar.

“Saya izin membasuh muka sebentar, Mrs. An.”

“Dasar bodoh.”

Bukan, bukan Mrs. Anderson yang memakinya; wanita yang menurut perkiraan Joy berusia sekitar setengah abad tersebut mengangguk tanda memberi izin padanya. Melainkan lelaki gempal berkulit putih yang bersebelahan bangku dengannya; sekaligus bocah iseng yang Joy yakini induk semang dari kesialannya barusan.

“Bajingan kau, Kevin!” Joy mendesis.

Percuma meladeni Kevin yang menjulurkan lidah dan makin terkekeh; Joy hanya melirik sinis sambil beranjak keluar kelas. Kepalanya menunduk membikin helai surainya jatuh bagai tirai menutupi sisi wajahnya saat melewati bangku Sean.

Demi apapun, ini memalukan.

Joy menepuk-nepuk wajah dengan tangan yang menadah pancuran keran wastafel. Kantuknya telah lenyap. Tapi dia masih mencoba membilas bayangan senyuman Sean yang masih menempel di dahinya; yang menembus otaknya—kalau bisa. Dia bakal senang andai Sean tersenyum karena kelakuan positifnya; karena ikut bangga atas prestasi yang diraihnya, mungkin. Atau barangkali memang terpesona olehnya—walau otak Sean dapat dipastikan sedang buyar kalau benar. Tapi selalu saja … ah, sudahlah. Joy hanya bisa membuat spesies pendiam macam Sean tersenyum karena lelucon abstraknya yang jarang masuk akal dan polah yang jauh dari tipikal-pacar-ideal yang sering didiskusikan sohib-sohib lelaki kurang kerjaannya.

Salah satunya lelaki gempal yang mendadak datang dan mencipratkan segenggam air keran ke wajahnya sekarang.

“Kevin! Sialan kau, Tupai!”

Joy membalas serangan namun Kevin sudah lari duluan.

“Makanya jangan melamun, Anak Tupai!”

“Mau ke mana kau?”

“Toilet! Mrs. Anderson mau mengambil nilai kuis, lho. Cepat kembali ke kelas!”

“Dadakan begini? ”

“Seperti baru kenal beliau saja.”

Joy langsung mengibrit menuju kelas. Memang bukan rahasia kalau Mrs. Anderson adalah guru paling dermawan; hobinya memberi kejutan yang selalu berhasil membuat murid-muridnya mati gaya dan berimbas pada nilai akhir yang kelewat memalukan jika dipakai berlagak di depan orang tua.

Tetapi kejanggalan terasa saat dia sampai di ambang pintu kelas. Suasana dalamnya minim kepala; hanya tersisa beberapa yang membaca komik, mendengarkan musik, menyalin tugas, dan selebihnya tidur. Namun yang paling mencolok adalah hilangnya eksistensi Mrs. Anderson bagai ditelan laci Nobita.

“Kenapa berdiri di situ?” Sean bertanya. Dengan kerutan dahi menatap Joy yang tidak gadis itu sadari sejak kapan.

“Bukannya kita mau kuis?”

“Kuis?” Sean menautkan alis. “‘Kan minggu lalu sudah kuis?”

Sean benar dan Joy baru ingat. Yeah, sekali lagi dia termakan jebakan Kevin. Tak sabar dia ingin membedol rambutnya supaya lelaki iseng itu juga merasakan serangan panik yang—mau tak mau—dirasakannya tadi. Sean kelihatan menunggu tanggapan Joy, jadi gadis itu menyahut dengan canggung, “O, iya.”

“Hari ini bukan kuis. Cuma diberi tugas membuat puisi karena mendadak ada rapat guru.”

Iris legam Joy mengikuti arah telunjuk Sean mengarah ke whiteboard yang memampang perintah berspidol biru khas tulisan tangan Mrs. Anderson ‘Buat puisi bertema bebas. Jangan ramai!’. Meski sekobar api dalam hatinya masih bergejolak ingin melalap Kevin, lebih dari itu dia lega karena batal kuis.

“Kau kenapa, Joy?”

“Kenapa?” Joy mengulang ucapan Sean. Namun saat menyadari raut kebingungan lelaki itu, Joy mengerti. Mungkin Sean heran dengan sikapnya yang agak aneh; datang tergesa-gesa dan mendadak bertanya tentang kuis. “Tidak. Tidak apa-apa.”

Lantas Joy berjalan ke ujung belakang. Menempati bangkunya. Mengamati situasi selayang pandang. Kelas memang sepi; tapi bukan berarti mematuhi tulisan jangan ramai di papan tadi. Joy berani bertaruh kebanyakan teman yang enyah dari kelas ini sedang menongkrong di kantin atau pergi ke pendopo dan bermain remi.

Ingin menyusul ke kantin; tidak ah, aku sudah membawa bekal dari rumah. Kalau bergabung ke pendopo; enggan juga, bisa-bisa bertemu Kevin lagi dan membuatnya naik darah.

Mungkin pilihan terbaik memang mendengarkan musik seperti Joe—lelaki bersurai ikal yang memakai headset di bangku dekat jendela. Sesaat Joy merogoh kantung tas samping hendak mengeluarkan headset dari sarangnya, tempat itu telah kosong. Tampaknya tertinggal di bawah bantal setelah digunakannya sebelum tidur semalam.

Dari pada mengulur waktu mencari pinjaman headset, Joy menggolekkan kepala ke atas meja dengan alas telapak tangan. Waktu senggangnya keburu habis. Sayang ‘kan kalau tidak dinikmati? Namun semenit kemudian seseorang menepuk bahunya.

“Tidur saja kerjaanmu, Joy!”

Joy tahu siapa pemilik suara ceria itu. Sudah pasti Leo. Sohibnya yang sedikit lebih normal ketimbang Kevin. Kecuali sikap kekanakannya yang masih setara balita.

“Hei, bangun!”

Derit bangku terdengar bertepatan Joy menarik punggungnya. Leo sudah duduk di hadapannya tanpa memutar arah kursi.

“Aku bosan,” keluh Leo. “Bermain remi lama-lama tidak menantang.”

“Sebenarnya aku juga bosan.” Joy menyangga pelipisnya. “Tapi headset-ku ketinggalan jadi aku tidur saja.”

“Itu tidak menyenangkan.”

“Memang. Terus mau apa kau di sini?”

Leo menggumam selama bola matanya berputar. Lalu membelalak dan menatap Joy. “Bagaimana kalau Truth or Dare?”

“Ya ampun, itu permainan basi.”

“Tapi seru juga ‘kan? Lagi pula hanya kita berdua yang bakal tahu.”

.

.

-tbc-

Advertisements

2 thoughts on “Truth Or Dare

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s