Finest Verdict

22

“Welcome to my kingdom.”

 .

.

Ketika derit engsel pintu disusul embus udara dingin mencapai indranya, Yoongi yang tengah berjongkok di muka perapian menoleh.

“Kim Taehyung!”

Bersamaan dengan gebrakan sekat jati yang menutup kasar, Yoongi melanjutkan kegiatannya menggesek ujung batang korek di sisi kemasan. Gadis bermantel beledu merah berhiaskan bunga-bunga es menyelimuti tudung kepala hingga pundak yang tadi baru saja mendobrak pintu itu tergesa-gesa menanggalkan sepatu botnya, menyandarkan payung beningnya ke dinding bata yang kemudian merosot dan menggelepar di atas pualam hitam, lantas mendaki lantai kayu dengan kaus kaki tebal yang tertinggal sebagai alas telapak.

“Kim Taehyung!” ulang sang gadis. Napasnya tersengal-sengal. “Di mana Taehyung?”

Yoongi selesai mengobarkan kayu-kayu kering dalam perapian. Radiasinya mulai terasa menghangatkan ruangan. Ia bangun, mengangkat tiga buah piring dari rak dapur untuk memindahkannya ke atas meja makan. “Menu kesukaanmu malam ini.”

“Kau juga tampak sudah tahu.” Sang gadis membanting tubuh ke permukaan sofa. Tidak peduli sakit di punggungnya yang tertohok sandaran kayu. “Kita harus membuatnya angkat kaki.”

“Lepaskan mantelmu bila tidak ingin meriang semalaman.”

“Ayolah, percaya padaku sekali saja.”

Sejemang Yoongi memandang gadis yang menautkan tangannya menjadi satu itu, sebuah isyarat yang memohon dengan sangat padanya. “Pernahkah aku tidak memercayaimu?”

“Tapi dia sudah melebihi ambang batas.”

“Bersihkan tanganmu, Yoonbi.”

“Untuk bersiap-siap membunuhnya?”

Lengan terpendek menyentuh angka delapan tatkala sang pemuda mengerling jam antik yang berdiri di pojok ruangan. “Sebentar lagi Taehyung pulang.”

Si gadis mendengus kuat. “Tidakkah kau khawatir?”

“Kau mencurigai kakak keduamu?”

“Kakak kedua? Kim Taehyung? Kau bercanda?”

Sambil meletakkan gelas terakhir di samping piring, Yoongi berujar pelan pada adik perempuannya, “Tiga tahun sudah lebih dari cukup untuk menyebutnya bagian dari keluarga.”

Yoonbi bangkit lalu merenggut segenggam kain lengan atas kakaknya, menariknya sehingga mereka bersimuka. “Tapi aku tidak mau menemukan kakakku tewas dalam keadaan leher berlubang seperti orang-orang!”

“Jaga ucapanmu!”

“Aku menyayangkan nyawamu, Yoongi!” Gemuruh udara terhela kasar oleh keduanya. Sorot pandang masing-masing bagaikan mengandung laser; saling menghunus pada mulanya yang lambat-laun meredup, terlebih ketika sang adik bersuara dalam getar pita suaranya, “Kalau bukan dia, berarti kita yang harus pergi. Aku serius mengatakan dia berbahaya.”

Yoongi mengambil langkah seribu dalam sewaktu, menangkap ayunan lengan adiknya yang nyaris mengenakan kembali sepatu dan lekas melucuti tudung kepala serta mantel beku yang tak kunjung menghangat. “Kau bisa benar-benar meriang jika tidak mandi sekarang. Kau benci itu, ‘kan? Sekarang bersiaplah untuk makan malam.”

“Tanpa Taehyung.” Selontar penekanan yang amat sarat dari Yoonbi.

“Min Yoonbi, dengarkan aku.” Sang kakak merundukkan bagian atas tubuhnya, menyejajarkan posisi bersitatap dengan si adik perempuan. “Ingat pesan ayah-ibu dulu?”

Bola mata Yoonbi yang gementar berpaling, memaku pandang ke atas tabung televisi kuno. Sebuah pigura usang namun bersih yang memampang selembar penuh kenangan di mana keempat manusia tersenyum secerah langit hari itu. Indah, dan setiap waktu ia rindu.

“Hm?”

Memerlukan waktu sekian detik sebelum Yoonbi lirih menjawab, “Tamu wajib dimuliakan.”

“Lalu sekarang, bagaimana kedudukan Taehyung di rumah ini?”

“O, ayolah, tidak ada yang tahu kapan dia berubah menjadi pemangsa!”

“Yoonbi—“

“Dan jangan memperlakukanku seolah kita bertenggat kelewat jauh.” Jemari Yoonbi menyisir puncak surai legamnya kasar. “Usia kita hanya terpaut empat tahun, Yoongi, aku tahu mana yang harus dan tidak sepatutnya dilakukan.”

Sang kakak menghirup oksigen dalam-dalam, yang selalu berhasil membuat Yoonbi terdorong merasa wajib memusatkan seluruh interesnya. “Bagaimana kalau kakakmu sudah menjadi bagian dari Kim Taehyung?”

Keheningan menyeruak, diiringi suara tegukan ludah serta tabuhan keras jantung sang adik.

Semenit.

Dua.

“Kau … bercanda, ‘kan? Baiklah, aku mengerti siapa Taehyung dan … ya, aku akan menerima kenyataan bahwa dia hanyalah tamu. Tidak peduli apa yang terjadi, siapa dan berapa pun korban yang mati di luar sana, kita tetap menghormatinya karena dia adalah seorang tamu,” tutur si gadis dalam sekali tarikan napas. “Sekarang aku akan mandi lalu kita makan malam, yeah, setelah dia datang, pastinya.”

Tapi Yoongi tak kunjung melepaskan genggaman pada lengan adiknya.

“Saat ini, aku mengaku kalah. Jadi, kumohon hentikan leluconmu yang mengandung tingkat kejenakaan nol, oke?”

“Ingat bagaimana kita menghabiskan malam-malam hanya untuk menangisi dunia yang tidak adil pada kita, Yoon?” Intonasi rendah Yoongi berbisik. Adiknya sontak memejamkan kelopak mata, dengan sebelah tangan yang menggantung bebas menutup erat telinganya.

“Tidak … jangan.”

“Betapa liciknya mereka menjebak ibu dan ayah, betapa mengerikannya kita diasingkan, betapa banyak air matamu tumpah setiap menjengukku di balik jeruji besi setelah semua fitnah kejam yang mereka berikan, betapa telingamu muak mendengar caci-maki, betapa—“

Please, jangan sekarang!”

“Bila Taehyung membawamu dan aku, dia bisa diterima kembali di dunianya dan kita akan memulai kehidupan yang lebih damai di sana.” Ada deru keyakinan yang menguar dari bibir Yoongi saat deret kalimat itu menggantung di udara, pun nada yang terkesan tak bisa diganggu gugat.

“Tunggu, jadi kau benar-benar sudah menjadi—“

“Lalu berita tentang pembunuhan berantai di media akan berhenti dan menjadi kasus dingin yang beberapa tahun ke depan pasti terlupakan. Bukankah itu bisa disebut resolusi terbaik untuk sekarang?”

“Karena semua rahasia telah terungkap, jadi aku tidak perlu repot-repot mengetuk pintu, ‘kan?” Adalah Taehyung dengan presensinya secara tiba-tiba di samping Yoongi, lengannya berkacak pinggang. “Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?”

“Semua … rahasia?” Yoongi membeliak, memelototi lelaki lebih muda yang tersenyum simpul, kemudian beralih kepada adiknya sendiri. “Yoon, kau sudah dikontaminasi oleh monster penghisap darah ini? Jelaskan padaku sejak kapan.”

“Sekitar dua tahun yang lalu?” Yoonbi mencoba membuka lembar ingatan sementara kakaknya bergegas memasang kuda-kuda untuk bersiap mencekik Taehyung—tidak bersungguh-sungguh tentunya. “Dia benar-benar seperti kerasukan saat itu. Matanya mendadak merah menyala dan taringnya tiba-tiba lebih panjang dari gigi lainnya, lalu menggigitku dan—“

“Tapi kemudian aku selalu sadar bahwa kalian keluargaku!” Segera Taehyung menyela seraya menangkup tangan Yoongi dari lehernya.

“Kalian?” Yoonbi yang masih beranggapan bila kakaknya seorang manusia murni, memastikan keadaan. “Kau menerkam kakakku juga?!”

“Tentu saja,” jawab Taehyung, ala kadarnya.

“Lalu kenapa diam saja?” Si gadis mendengus. “Ya sudahlah, bagaimanapun  kami terlanjur tertular DNA-mu. Tapi sungguh, saat aku sedang melayani pembeli roti dan tiba-tiba berita televisi membahas jumlah korban dengan luka gigitan leher meningkat drastis tadi, kukira Taehyung sudah kehilangan kendali.” Lantas mengalihkan atensinya cepat pada Yoongi. “Dan sekarang aku mengerti, peningkatan korban itu karena pembunuh berantainya bertambah satu.”

“Intinya sekarang bukankah sudah jelas?” Tanpa mengacuhkan dua pasang alis yang tertaut, Taehyung terkekeh sembari menarik tangan kedua kakak-beradik di hadapannya. “Welcome to my kingdom.”

.

::

.

“Omong-omong, tidakkah kalian ingin tahu apa yang paling membuatku terharu?”

“Tidak.”

“Katakan saja kalau ingin bicara.”

“Ketika Yoongi bilang, tiga tahun sudah lebih dari cukup untuk menyebutnya bagian dari keluarga! Oh my, mataku berair lagi.”

“Sepertinya aku sangat membutuhkan asupan darah waktu mengatakan itu.”

.

.

-end-

.


.

A/N:

  1. Big love buat Kak Fika super cobonyi yang sudah bantuin ngebeta. ❤
  2. Terima kasih sudah membaca. 🙂
Advertisements

5 thoughts on “Finest Verdict

  1. BENERAN IN LOVE SAMA SCENE TERAKHIRNYA HAHAHAHAHA AKU BAYANGIN YOONGI-NYA PASANG MUKA DATAR TERUS YANG: ‘IYA, GUA LAPER PAS NGOMONG ITU. AYO SEKARANG MAKAN’ WKWKWKWK YA ALLAH YOKSHI YHA MEREKA TUH :’) oke sekarang matiin kepslok daripada ditendang keluar blog. firstly first ini kayaknya aku bakal komen panjang jadi kalo mau dispam pun gapapa aku relaaaa yang penting ini semuanya harus kukeluarin hahahaha xD

    – GANYANGKA BELLA BAKAL PASANG GAMBAR DI ATAS OKEY?? AKU BAYANGINNYA PAS RAMBUTNYA TAE MASIH KEK DI ATAS ITU BENERAN DEH UHU MANA AESTHETIC BANGET PULA INI BOCAH BERDUA YA ALLAH.
    – brother!yoongi is lyfe, okay. (terus bayangin yoongi duduk-duduk cantik depan perapian uwuuuu yoongi duduk-duduk cantik juga dong sini di rumah.
    – (btw aku baru dapet some facts about how one vampire turn someone into vampire deh. nanti kita omongin di japrian aja yahhh.)
    – MASIH SENENG SOALNYA VAMP!TAE BENERAN DIBIKIN.
    – beneran pas bantuin bella ngebeta aku tuh yang langsung kena trigger mo nulis haha. belom jadi apa-apa sih tbh, tapi seenggaknya ada trigger lah wkwk.
    – ini aku bayanginnya mereka tinggal di rumah kuno gitu, all wood, DENGAN TV TABUNG SAMA PERAPIANNYA HUHUHUHUHUHU so damn beautiful.
    – yoon, tae-nya jangan dicekek atuhlah 😦
    – DAN MEREKA HIDUP BAHAGIA DI KERAJAAN VAMPIR WKWKWKWKK. aku masih ngakak pas keinget alesan taehyung dibuang dari kerajaannya tau ga. dasar bocah xD

    suka banget. banget. banget. banget. ga ngerti lagi. bellaaaaa keep writing yaaa! ❤ ❤

    Liked by 1 person

    1. WKWKWKWK BENERAN AKU KAGET KAK FIKA TERNYATA SUKA BAGIAN ENDING YANG ITU terus KAGET KAK FIK BENERAN KOMEN FICLET xD halaa nggak mungkin kutendang kak fik inget kita shantay squad garis keras hahahaha 😀 i swear kusenang banget baca komennya kak fika ini. (hug)

      – yokshi ya kak uri taegi mau ngapain aja bikin baper mereka ih sebel :”) APALAGI BLOND HAIR YOONGI YANG ITU WO YEA xD (gampar aja kak on fire banget manas-manasin huhu).
      – kenapa aku malah ngakak baca ‘duduk cantik depan perapian’ ya Allah kak fik xD aku bayanginnya dia yang stay depan kompor tanah liat gitu YOONGI MASAK yaampun maafkan imajinasiku sampis sekali yha :”)
      – terus factnya bikin aku pingin bikin lag— … nggak jadi ._.
      – alhamdulillaah apalagi INTERVIEW YOONGI YANG BARUSAN YA KAK xD YAS BENTAR LAGI KAK FIKA UPDATE YOSH YOSH!
      – sumpah aku senang bayangan rumahnya nyampeee huhu :”)
      – taehyung emang nggak di kerajaannya nggak di bumi onar mulu kerjaannya :”) maafkan aku mas tae tak buat sampis dikaunya heu.

      kubahagia kak fika suka sumpah makasih banget banyak banyak kak fikachuuu keep writing too semoga charge triggernya cepet penuuuh❤❤

      p.s: jangan lupakan rambut blonde mas yoongi xD

      Like

  2. selalu sukaaaa sama momen kakak-adek huhuhu jadi inget abangku yg udah nikah TT (abaikan)

    taehyung vampire huwoo yoongi juga uwoo terus yoonbi gimana?
    suka sama konvo mereka masa?? padet bgt gitu, bel 😘 (perhatian yoongi ke yoonbi ngga kuat akutu bacanya kok minta dipeluk gitu aih mas agus huhuhu)

    keren bel… auranya woo pas gitu dibaca malem2. tapi aku kepo itu pas ending yg ngobrol siapa??? o_o

    keep writinge bella sayaang ^^

    Like

    1. samaaa heuheu tapi aku enggak punya kakak kandung malahan kak anee wkwkwk :”)
      yoonbi… yoonbi… yoonbi jugaa wkwkwk kalau dia masih jadi manusia, dia nggak bisa ikut ke dunia taehyung soalnya kak anee hueuehehe.
      aku nggak bisa bikin narasi soalnya kak anee ajariin 😦 jadinya semi-full-of-dialogs itu ya ketahuan wkwkwk ayo kak peluk yoongi!!
      makasih banyak makasih banget kak aneee sumpah keep writing juga i heart you! ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s