Perihal Klakson dan Andong

Anda mengerti perasaan saya, ‘kan?

 

 

Galibnya, aku mudah terganggu oleh segala macam suara bernada random yang memekakkan. Jadi bukan hal yang janggal bila kukatakan: aku benci klakson.

Rasanya konyol setelah serta merta mengakui diri memiliki perasaan khusus terhadap benda mati. Tapi kukira aku tidak sendiri. Pernah aku mendengar ada juga orang-orang yang kepalang tidak menyukai balon, badut, gigi yang licin, dan benda-benda di mana harusnya normal lainnya yang tak kuingat. Namun meski begitu, kebencianku padanya tak sedalam kawah Gunung Semeru, tak separah sampai pantas disebut sebagai fobia. Ya, setidaknya logikaku masih bermain dengan leluasa.

Aku mengerti dia dibutuhkan, apalagi untuk para mobil dewasa yang mengangkut muatan beribu kilo atau lebih jumlahnya, bahkan berpuluh jiwa. Dewasa di sini mengandung sedikit metafora, maksudku, mobil berisiko ganda yang butuh banyak perhitungan orang dewasa dalam mengendarakannya: truk, bus, ambulans, beserta kemenakan mereka yang tidak mungkin dipaksa langsung berhenti ketika sang sopir menginjak pedal rem—kecuali jika hidup di dunia sihir.

Ah, tapi klakson muskil menjadi primadona bila berada di sana.

Karena semua orang pasti pergi ke mana-mana dengan memanfaatkan sapu terbang kalau bukan kereta ajaib semirip milik Santa.

Seperti pembenci benda mati selain diriku, aku punya alasan. Sejatinya aku tidak merasakan apa pun ketika laskar mobil dewasa membunyikan klakson mereka. Justru kumaklumi dan kutaruh rasa terima kasihku di pundak sang sopir, karena masih bersedia menegur pengendara yang lebih kecil selagi tungkai mereka bekerja memperlambat laju—bukan termasuk mereka yang ugal-ugalan.

Tapi tidak dengan situasi yang ini.

Belum lama aku mengalaminya lagi. Dua hari yang lalu, saat matahari terasa menyengat tepat di atas kepala dan aku bisa melihat bayangan orang-orang hampir tak berbentuk manusia di permukaan aspal—karena bergumul persis di bawah kaki mereka. Serangan panas meresap ke dalam tubuhku yang duduk di atas matic merah yang kutarik gas secepat rata-rata. Kala itu kupikir semua pengguna jalan berharap segera sampai tujuan, sama sepertiku yang ingin lekas melepas helm beserta jaket dan meneguk air es dari dalam kulkas.

Namun jeep di depanku tiba-tiba membuatku jengkel setengah mati.

Mendadak dia nyaris berhenti dan berjalan lambat sekali. Tapi bukan disebabkan oleh itu darahku meninggi, melainkan klaksonnya yang nonstop berbunyi kepada andong yang sedang berusaha menepi. Kaca mobil jeep itu bukan sejenis riben, jadi aku bisa melihat jelas yang terjadi di depan sana, sesuatu yang membuat si klakson berteriak-teriak seperti tengah dikejar bala kematian.

Aku tidak yakin apakah tindakanku benar dengan menyalahkan si klakson yang menurutku tak tahu diri. Lebar jalan itu tidaklah luas meskipun cukup dipakai dua arah, dan keberadaan andong memang membuat macet sesaat di belakang. Hanya sesaat, sebentar, sekejap, ya … setidaknya cuma dengan menunggu ruas arus balik menjadi agak sepi pun jeep itu beserta kami—pengendara lain—di belakangnya sudah bisa menyalip dan terbebas. Sebenarnya simpel, kan?

Dan bukan hanya itu.

Pernah aku bertemu andong di jalan itu juga sebelumnya, entah tepatnya kapan, entah dikendalikan oleh pak kusir yang sama ataukah tidak. Kala itu tangan kanan pak kusir tiba-tiba melintang di udara, yang kupahami sebagai tanda untuk memberhentikan pengendara di belakangnya, jadi aku memelankan motorku dan berhenti. Kudapati kemudian, ternyata pak kusir bertujuan memberi kesempatan bagi sebuah mobil mewah yang hendak menyeberang jalan. Sempat kulihat si sopir mobil itu sekilas memuji kebaikan pak kusir melalui ibu jari yang teracung selagi membelokkan kendaraannya.

Aku merasakan hangat di dadaku, dan semakin berkobar emosiku jika pak kusir diperlakukan semena-mena oleh klakson.

Jujur saja, aku masih sangat bisa mengerti apabila si klakson berkoar-koar kalau memang terdapat dokar, gerobak bakso, pedagang siomay, pejalan kaki, pokoknya siapa pun yang jelas lengah dan tidak memperhatikan kondisi sekitar—terlalu berjalan ke tengah padahal masih ada spasi yang cukup untuk minggir, atau pengendara lain yang berbelok dan berhenti tanpa memasang lampu sein, misalnya. Kalau dalam kondisi tidak memungkinkan tetap bersikukuh meniupkan terompet klakson, o ayolah, sudah kubilang aku juga ingin segera sampai rumah dan meneguk air dari dalam kulkas, tapi tidak begitu juga caranya.

Beruntung si kuda pandai menahan frustrasi dan menyimpan segudang kesabaran. Kalau tidak, ha, menikmati pertunjukan sirkus hewan seksi itu memecahkan kaca mobil sepertinya menarik juga.

Teruntuk Pak Miller Reese Hutchison sang penemu klakson, saya bukannya mengeluhkan masterpiece jenius milik Bapak, hanya saja … Anda mengerti perasaan saya, ‘kan?

 

 

-end-

Advertisements

2 thoughts on “Perihal Klakson dan Andong

  1. (padahal udah baca dari tadi pagi tapi baru sempet komen sekarang sambil ngebaperin foto-foto jung hoseoki dari bella huhu) (fix kebayang inimah fix) (hoseoki kenapa sih).

    BEL! jangankan suara klakson yha, suara notif hape aja aku ngga suka. seriously ini walaupun di rumah, beneran yang aku silent hapeku tuh. geternya aja aku matiin wkwk. sebegitu annoyed-nya sumpah kalo denger krang-kring, apa ga telpon masuk wkwkwk xD lagian juga kalo di jalan, udah tau macet masih aja nglakson tuh minta ditendang banget otaknya buset. iye kalo kosong juga kitanya jalan kok, emang mau begaya apaan di tengah jalan hih. HIH. ah sudahlah aku bisa relate banget sama tulisan ini :”) KEEP WRITING BELAAAA 😀

    Like

    1. Ya Allah kak fikaaa wkwkwkwk xD dasar emang hoseoki kenapa bisa gitu sih ya nyebelin kan :” nyebelin bikin gegulingan hahahaha.

      OMG kak fik yokshi kita *TOS!* hooo aku juga sama kalo pas lagi pegang hp terus tuh gitu jugaa *TOS 2*. IYAA! keki pol ya kak kayak dia tok aja yang bayar pajak kan, bising banget suwedih. Tapi sebenere aku pundung parah pas mau publish ini huhu bcs isinya bad vibes semua kebanyakan ngeluh heu maafin bikin emosi ya kak fik pas baca :”

      KAK FIKA KEEP WRITING JUGA SEMANGAT MAKASIH BANYAK BAFIK! ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s