Taeyong Meets Jack Frost

 

Santa Claus dan Tooth Fairy yang Taeyong tahu adalah Dad.

Segalanya berawal tatkala Taeyong berpura-pura tidur di malam hari ketika salah satu gigi serinya lepas. Ia mengunyah permen karet supaya tetap terjaga—tanpa Mom dan Dad tahu tentunya, dan ia berjanji untuk menyikat gigi lagi meskipun tidak disuruh—dengan harapan supaya ia bisa menemui Tooth Fairy yang akan menukar giginya di dasar bantal dengan sebuah koin.

Dia pastilah sangat kecil dan memiliki sayap yang cantik, tapi mungkin sedikit lebih besar lagi karena gigi dan koin akan terlalu berat jika dia terlalu kecil. Atau mungkin dia membawa beberapa teman-temannya untuk mengangkut setiap gigi? Oh, pasti mereka sungguh bersinar seperti kunang-kunang yang kusimpan dalam toples.

Saat itu Taeyong tenggelam jauh dalam angan-angannya membayangkan bagaimana rupa indah Tooth Fairy, sehingga ketika terdengar derit pintu kamarnya, ia tersentak. Permen karetnya tertelan. Taeyong menyesal. Semoga permen karet itu tidak melukai ususnya yang bekerja keras.

Tetapi omong-omong, apakah suara itu disebabkan oleh kedatangan Tooth Fairy yang baik hati?

Kegelapan dalam selimutnya tiba-tiba menjadi benderang kala terdengar suara lain berupa sebuah bunyi klik. Saklar lampu. Tidak lama setelah itu kasurnya bergerak-gerak, Taeyong lekas memejam sebelum selimutnya dibuka, dan tubuhnya melayang lantaran diangkat dengan perlahan ke samping. Tangan besar dan sedikit kasar yang bersentuhan dengan kulitnya itu terasa seperti milik Dad, tapi Taeyong tetap menutup matanya rekat-rekat. Tubuhnya dibopong lagi, kembali ke posisi semula dengan balutan selimut yang hangat. Satu kecupan di dahinya sebelum beban di tepi kasur itu menghilang.

Taeyong melihat punggung lebar yang kini menghampiri saklar.

Benar, itu Dad.

Setelah penerangan utama kembali dipadamkan dan hanya tersisa bola lentera biru yang membentuk bayangan bulan berbintang di langit-langit, dan pintu bercat putih itu ditutup, Taeyong meraba gigi serinya di bawah bantal.

Hilang.

Sebuah koin emas terlentang di sana sebagai gantinya.

Malam itu ia menyadari bahwa Tooth Fairy yang sebenarnya adalah Dad, begitu pula Santa, yang ia ketahui setiba malam Natal dan ia melakukan hal yang sama—namun tanpa bantuan permen karet atau apa pun demi keselamatan perutnya.

Hati Taeyong yang hampa kehilangan mimpinya hingga di suatu malam bersalju ia bertemu dengan Jack Frost.

Salju yang dingin membekukan kaki dan udara yang dihela mengeluarkan gumpalan asap, suhu yang menusuk masuk melalui lubang hidung. Menekuk dan memeluk kedua lututnya di anak tangga teras, Taeyong melihat Jaehyun dan Doyoung saling bermain lemparan bola-bola salju di halaman rumahnya—karena berada di titik tengah kediaman mereka bertiga. Taeil meneriakkan namanya, mengajaknya untuk membangun boneka salju yang hanya tinggal membentuk wajah, tetapi Taeyong menolak dengan gelengan yang membuat Taeil mendesah.

Taeyong tak lagi memiliki harapan, dan pikirannya dipenuhi oleh tanya mengapa orang dewasa suka sekali membuat dongeng yang dusta?

Saat itulah kilat berwarna biru melintas di hadapannya tanpa memancarkan cahaya. Begitu cepat hingga Taeyong merasa bahwa itu hanyalah sebuah ilusi semata, yang disebabkan oleh kesadarannya yang melanglang buana. Tapi bayangan biru itu menyambar lagi. Apakah itu kilat ataukah bayangan? Apakah itu nyata ataukah fantasinya? Gejolak penasaran dalam dadanya membuncah, Taeyong mengejarnya dengan berlari. Teman-teman yang keheranan memanggilnya bersahutan, Taeyong menoleh sekilas dan berseru lantang ke belakang, “Aku akan kembali!”

Suara ranting patah dari dasar bot cokelatnya menyadarkan Taeyong bahwa ia telah sampai di taman belakang rumah kosong berpagar kayu keropos milik tetangga yang tak dirawat. Lentera jalan utama tak mampu menjangkau tempat itu, hanya sinar remang cahaya bulan yang menaunginya. Pandangannya berpendar memutar ke segala arah, mencari keberadaan kilat biru yang mungkin benar-benar ada. Tanah yang biasanya gersang itu sepenuhnya tertumpuk salju tebal. Perlahan Taeyong melangkah mendekati setiap sudut kegelapan dalam sunyi.

Ada suara aneh yang terdengar. Seperti desisan napas dan dengungan-dengungan gumam dari belakang pohon besar di dekat semak-semak itu. Apa iya? Napas ditahannya demi menajamkan pendengaran. Oh, ya! Tidak salah lagi, dari sana!

Taeyong membuka matanya lebar-lebar. Tangannya yang beku dan nyaris semerah darah mengepal di sisi tubuhnya.

Dua atau tiga langkah, sedikit lagi ia bisa menemukan apa yang terjadi di balik pohon besar itu.

Yang disayangkan kemudian, Taeyong terperosok.

Ia terjerembap ke dalam lubang tak kentara, yang tersembunyi dalam es yang menggunung. Sepanjang kaki hingga sebatas pahanya tenggelam di bawah permukaan. Terkejut membuat pandangannya semakin gelap, dan sunyi terdengar menertawakannya dengan sinis. Ia menjerit.

Hey! Are you okay?”

Pemuda bersurai perak yang mengenakan sweter biru dengan tongkat kayu di tangannya melayang keluar dari balik pohon besar itu—sempat Taeyong mengiranya bayangan hitam mengerikan yang berjalan di bawah sinar bulan—mengangkat tubuh Taeyong melalui aliran sinar menyerupai listrik yang keluar dari ujung tongkatnya.

“Jack Frost?” Taeyong membelalak. “Incredible!” serunya ketika merasakan kakinya mampu memijak partikel ringan udara sebelum Jack menurunkannya ke daratan. “Are you really … really really Jack Frost like the one from my Mom’s lullaby?” Taeyong mendongak, memandang Jack yang mengawang seolah tengah berada di tanah Mars.

“Are you really really can see me?” Keterkejutan Jack di bawah remang putih rembulan menampakkan kerutan dahi dan menyatunya alis. “It’s impossible. Unpossible.”

“Am I dreaming?” Melupakan perih yang melanda kaki, Taeyong mengusap-usap matanya. Tapi tidak ada yang terjadi.

Of course not.” Turun, tungkai Jack menapaki bumi yang sama dengan Taeyong kali ini. “Aku tidak bisa melebur ke dalam mimpi seseorang.”

Sosok itu sungguh nyata namun terlalu bodoh bila dengan mudahnya ia percaya. Taeyong mengingat tokoh-tokoh sebelumnya yang sekadar dusta belaka. “Aku tidak memercayai Santa dan Tooth Fairy, kukira kau adalah salah satu dari mereka?”

“Right,” ucap Jack menimpali. Lalu ia menjentikkan telunjuknya. “I think, I’ve got the answer.”

“Yes?”

“The man in the moon.” Melihat Jack menengadah ke arah bulan, Taeyong mengikutinya.

“The man in the moon? The Guardian?” Taeyong menatap pemuda bersurai perak yang sewarna dengan rambutnya sendiri itu lamat-lamat. Serpihan es yang jatuh menempel di wajahnya. “Jadi kau benar-benar Jack Frost?”

“Want to see something cool?” Jack menunduk untuk menatap Taeyong dan tersenyum, kemudian menghentakkan tubuhnya ke atas dan terbang. Diayunkannya tongkat kayu yang berujung melengkung seperti mata pancing itu, menyentuh gumpalan salju di bawah Taeyong sehingga membentuk sebuah balok es dan menjelma menjadi kursi, beringsut meninggi sampai kedudukan Taeyong melambung empat kaki. Tongkat digeser lagi dan digerakkannya berputar-putar mengarungi sebagian daratan bersalju di taman belakang itu, berubahlah ia menjadi keras dan licin, menciptakan sebuah arena ski. Desau kagum Taeyong teredam tawa menyenangkan milik Jack yang mengudara. Sejurus lebih cepat Jack menggerakkan tongkatnya, sebuah boneka yang mirip seperti milik Taeil tadi—tapi yang ini lebih bagus dan besar—terbentuk dari bulatan-bulatan salju yang meluncur turun dari angkasa.

“Kau tahu?” Jack berangsur mendarat dan mengarahkan tongkatnya ke arah kursi es yang menopang Taeyong, menurunkannya perlahan. Taeyong ingat rasanya seperti tengah berada di dalam lift. “Hidup dan mati kami sepenuhnya ada di tangan kalian. Di dalam hati kalian.”

Taeyong mengangguk meski sebenarnya tak mengerti.

If you stop to believe, there’s no reason to keep us alive anymore,” tutur nada rendah Jack yang menenangkan. Satu kaki dilipatnya untuk berlutut, jemari Jack menyusuri surai Taeyong. Ulasan senyumannya berbanding terbalik dengan keadaan es yang beku. Manis dan bersahabat, Taeyong menyukainya. “We have similar hair, by the way.”

Taeyong mengangguk lagi dengan sebuah ringisan ceria, menampakkan dua gigi taring permanennya yang baru tumbuh setengah jalan.

“Tapi,” kata Taeyong. Diteguknya ludah dengan gugup saat tatapan Jack terlihat sangat mengantisipasi ucapannya, “yang kulihat selama ini adalah Dad. Tidak ada Tooth Fairy. Tidak ada Santa.”

Jack tertawa dengan deru napas teratur. “Kami hidup di dalam kepercayaan, Handsome Boy.”

“Lee Taeyong.” Taeyong menukas.

“Baiklah, Lee Taeyong yang tampan.” Telunjuk dan ibu jari sedingin salju milik Jack menyentuh dagu Taeyong. “Melalui Dad, mereka ada. Pernah menghitung berapa banyak anak-anak sedunia?”

“Yang kuyakini tidak sedikit.” Bola mata Taeyong menatap bulan yang terhalangi awan. Berpikir keras. “Ratusan juta? Atau milyaran?”

“Lebih dari yang kaubayangkan, Taeyong,” jawab suara lembut Jack.

“Kurasa aku setuju denganmu,” ujar Taeyong yang ragu, karena ia masih mencoba untuk memikirkan berapa tepatnya jumlah anak-anak sedunia. Helai rambut begitu banyak, tetapi anak-anak pasti lebih banyak. Apakah jumlah rumput di lapangan—yang kini masih tertutup salju—cukup untuk menghitung keseluruhan mereka, termasuk dirinya sendiri dan teman-temannya? Ataukah tidak? Lalu, bagaimana dia bisa menghitungnya? Ah, ia perlu bantuan Dad untuk menjawab pertanyaan sulit ini.

“Jadi, jika Santa dan Tooth Fairy—dan bahkan aku—harus menjumpai semua anak-anak yang baik sepertimu, satu per satu, berapa waktu yang kami butuhkan, menurutmu, Taeyong yang tampan?”

Taeyong mendesah. Kali ini menyerah. “Seharusnya aku bisa lebih cerdas untuk memikirkan semua itu.”

“Mau berjanji padaku?” Jack mengacungkan jari kelingkingnya. “Untuk tetap percaya dan memberi waktu untuk kami bertahan?”

Wajah lesu Taeyong masih tertekuk. “I’m sorry. But from now, I would.” Gelengan kuat Taeyong ketika ia menyadari sesuatu yang salah dari ucapannya. “Not just would, but I will.” Lantas kelingking kecilnya menyambut jari Jack dan bertautan erat bersama senyuman masing-masing yang terpeta.

Penutup dari perjanjian yang murni itu adalah pelukan erat Jack yang menyelubungi tubuh si kecil Taeyong, dan ia membawanya melayang keluar dari taman belakang tak terawat itu. Melalui jalan utama, Jaehyun dan Doyoung terlihat bergabung dengan Taeil yang membuat boneka salju. Jack memeluknya sekali lagi sebelum kembali terbang ke angkasa, seolah menuju tempat tinggal salju berasal.

“Lee Taeyong!” Teriakan Jaehyun. Taeyong berlari menuju teman-temannya dengan langkah dan hati yang ringan, kepercayaan pada Mom dan Dad yang membesar, keberadaan Jack Frost beserta kawan-kawannya di hatinya, juga segunung harapan.

“Aku punya cerita yang sangat hebat!”

 

 

-End-


A/N:

  1. Inspired by Rise of the Guardians.
  2. OTP.
  3. OTP (2).
  4. OTP (3) xD.
  5. Terima kasih sudah membaca.
Advertisements

6 thoughts on “Taeyong Meets Jack Frost

  1. Munyaaaa Lee taeyong jadi kecil XD ketemu Jack frost trs setiap tindakannya dia di sini lucu kyk di dpn tangga trs nekuk kaki like aaaa
    Terus jaeyoungil huhuuuu lucuuu
    Keep writing!

    Like

    1. Ehehe iyaa kak li akhirnya ty track ketemu jack abisan mereka mirip banget jadi gemes mau gimana-gimana mereka harus ditemuin wkwkwk xD
      Makasih banyak udah mampir dan komen kak lianaa ^^

      Like

  2. anak anak enciti jadi kecilll uhuuu ucul pastii (dalam bayanganku sih gitu) 😂 kasiian taeyong dibohongin daddy nyaa. tapi daddy co cweet lhoo kesannya malahan. niatnya kan biar taeyong terhibur gitu meski endingnya ketawan bohong. kasih ayah sepanjang masa subhanallah.

    dan akhirnyaa ketemu sama jack frost meski dalam hati udah ragu gituu. suka sama setiap konvo mereka berdua. preciouss gitu… dan lagi2 bel kamu bikin aku kagum sama aura westernyaaa 😘 ini panjang ya sebenernya, tapi pebawaanmu nagih gitu buat dibaca. keep writing bella!!!! ^^

    Like

    1. Bener kak aneee mau ayahnya gitu tapi taeyong kecilnya yang … a sudahlah 😦 wkwkkwkw. Kak anee sumpah deh YOU’VE MADE MY DAY HUHUHU mau panggil my lovey dovey kak anee boleh ngga? :”) pokoknya aku mau nyiapin berondong jagung buat kak anee tunggu aku ya!! wkwkwk.
      Kak an, sumpah kayaknya aura western ini beneran karena salju-saljuan ituuu pokoknya terima kasih banget kak anee saranghaeyo keep writing juga!!! ❤ ❤

      Like

      1. yuhuuu boleh boleh, bella… seneng deh bisa dipanggil lovey dovey 😘😘

        tau ngga sih bel… ini tuh aku pengin bgt baca semua fiksimu huhu habisnya tulisanmu termasuk kesukaanku 😂 jadi entar kalau aku nongol lagi di komen box mu jangan kaget yaa hehe kamu ngga harus brondong punyaku kok bel. noo, bikos tulisanku itu receh semua gitu hehehe kamunya nanti kena gejala mual pusing dan pengin udahan 😅😅 hehehe

        Liked by 1 person

      2. Kak aneeee kusenang sekali kalau kak anee suka sumpah :”) tapi kak, kok aku jadi nervous habis kak anee bilang gitu soalnya beneran kak anee butuh kresek ember panci atau apalah kalau ke sini tuh serius :”””
        Ya Allah recehnya kak anee bisa bikin aku sebaper itu sama kyungsoo ya terus yang masterpiecenya berarti … :O
        Aduh pokoknya kak anee my lovey dovey terima kasih banyaaak ❤

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s