Artificial Space

144c3aaf0df0750c

Suara samar dalam dadanya selalu membisikkan bahwa dunia itu artifisial.

.

.

Seokjin selalu terbangun karena sebuah mimpi, dengan gelap sebagai dunia dan isak jerit yang merajai suasana, ia lalu membuka mata untuk mendapati keringat yang membanjiri pelipisnya. Ia tidak pernah yakin apakah hari itu pagi, siang, ataukah malam, lantaran yang menyambut pupilnya yang mengecil hanyalah neon-neon benderang di dalam ruangan putih yang konstan. Ia bahkan tidak tahu jawaban mana yang benar, andaikan seseorang menanyainya perihal apakah matahari sebenarnya ada. Pahit menguar dari peraduan alu dan mortar, merasuki indra penciumannya yang sudah terbiasa, lantas mengular ke dalam hatinya yang telah mati.

Di sana, tidak ada batasan cara bagi manusia untuk tidur. Terakhir kali kesadaran Seokjin menangkap dirinya tengah menumbuk serbuk sebelum terlelap dalam kondisi lutut yang tegak, berdiri di depan cairan biru yang mengisi gelas beker di mana kini tengah dipindahkannya melalui pipet tetes, yang kemudian dicampurnya ke dalam racikan bubuk hijau mudanya itu, selanjutnya cukup memerlukan enam atau tujuh putaran dari alu dan eksperimennya telah jadi.

Vokal bergetar namun memekik—terkadang diselingi nada memohon—milik seorang wanita, bentakan kasar pria, dan gesekan antara sol sepatu dengan ubin yang pecah dalam mimpi yang menggugah tidurnya tadi mengetuknya kembali. Di dalam mimpi itu tidak pernah muncul suatu visual, hanya gemerisik pekak dan teriakan yang membaur menjadi dengungan tajam, terlalu menusuk hingga Seokjin harus menutup telinga—bagus sekali bila ada gunanya, tetapi tidak. Gelombang bunyi yang menyiksa itu merangkak cepat, membumbung sampai ke puncak kepalanya sampai kepeningan membuatnya mual. Ia ingin menghentikan dengungan itu dengan memikirkan musabab mengalami hal demikian, namun di setiap logikanya berusaha, ada sesuatu yang terasa memelintir syarafnya dan itu membuatnya nyaris pingsan.

Ia berpegangan pada meja marmer untuk mencegah tubuhnya ambruk, saat Namjoon memasuki ruangan. Pernah ia menanyakan perihal mimpi kepada teman beda divisinya itu, yang ternyata juga memiliki stagnasi bunga tidur yang sama, tetapi hanyalah gambaran pekat yang serupa dengannya. Seokjin ingat betul bila mimpi Namjoon tidak dipenuhi kericuhan, melainkan tenang namun terdapat obrolan samar yang menggaung, memantul dan saling bersahutan sehingga Namjoon pun tidak mampu menangkap isi dari mimpinya itu.

“Jika mereka melihatmu, aku yakin kau sudah berjalan ke ruang pengasingan, kau tahu.” Renungan Seokjin kembali pada presensinya kala Namjoon menelurkan rangkaian silabelnya sambil meraih sebuah gelas untuk menampung air mineral dari keran, memutar-mutarnya sedikit karena kebiasaan mengonsumsi fermentasi anggur yang sewarna surainya itu. “Mereka sudah memilih seseorang,” tambahnya, kemudian mengulurkan gelasnya pada Seokjin. “Untukmu.”

“Padahal kalau mereka mau menunggu sedikit lama, bakteriku bisa bekerja ganda dan hasilnya akan lebih ampuh.” Seokjin meneguk ludah dalam tenggorokannya yang kering, sebelum mengalirinya dengan minuman dari temannya itu. Denging di telinganya sudah lenyap tetapi ia tahu, besok bukanlah pengecualian baginya mendapatkan serangan itu lagi.

“Apa kali ini?” Dahi Namjoon berkerut dan penasaran menggerakkan tangannya menuju mortar, yang lekas digeser menjauhinya oleh Seokjin; sebab pernah suatu kali lambaian kecil jemari oknum berlabel Kim Namjoon di dada kirinya itu sukses memecahkan dua tabung erlenmeyernya yang berisi racun senapan.

“Dehidrasi,” kata Seokjin. “Mereka—kau tahu, bakterinya—mampu menyebabkan dehidrasi akut, dan karena pengoperasiannya dilarutkan dalam air, jadi kelincinya akan—”

“Semakin banyak minum dan semakin parah ia dehidrasi.” Namjoon menyela lalu menepuk bahunya. Seokjin akui bila kegeniusan pemuda-pemuda Kim memang tidak pernah membutuhkan penjelasan yang lebih untuk mengerti—iya, termasuk dirinya juga. “Sangat efektif.”

Pintu higienis laboratorium itu terbuka otomatis, memberi jalan kepada sepatu-sepatu lars yang masuk dengan bahana derap yang memadati lab. Seokjin sudah menduga bahwa sekon berikutnya ia akan dipanggil supaya mengikuti mereka dan saat ia memancing tanya: “Perlukah aku membawa eksperimenku?” tiga pria berpakaian prajurit itu tampak terkejut lantaran baru ingat, kemudian mengangguk bagai bocah ditawari permen loli. Fisik boleh kuat dan menyeramkan tetapi mereka berotak udang; itu yang Seokjin pelajari selama entah berapa lama—ia tidak pernah mengenal waktu, hanya stopwatch.

Seokjin merasakan aroma asam berbondong-bondong memasuki lubang hidungnya kala ia berada di antara ketiga prajurit itu, di dalam lift terbuka yang tidak berkaca pun berdinding pembatas. Itu adalah hasil penemuan Namjoon saat dulu—ia tidak tahu tepatnya kapan, yang pasti sudah lampau—sebuah lift dengan tepian yang mengandung sensor listrik. Lift itu hanya menuju ruangan khusus percobaan di mana ia bisa menjumpai kelincinya, jadi bukan hanya untuk memudahkan pergi ke atas, lift itu juga berguna sebagai jebakan yang menyengat bagi para kelinci atau hamster kecil yang malang.

Bau yang tidak menyenangkan itu semakin kuat dan Seokjin tidak bisa menahan dirinya untuk mengendus si prajurit. “Aku bisa membuatkan larutan pewangi badan, kalau kalian ingin,” katanya. “O, tidak, aku tetap akan bereksperimen. Tidak perlu menunggu kalian ingin.”

Ketiga prajurit itu lantas memandang sangsi kepada Seokjin, tapi detik selanjutnya saling mengendus satu sama lain seperti anak kucing. Melihat mereka baru menyadari bau keringatnya sendiri sedikit membuat Seokjin geli sekaligus turut merasa bodoh.

Daratan lift telah mencapai lantai puncak, maka mereka bergegas keluar dari lingkaran garis merah, menapaki jembatan layang berkisar lima meter yang permukaannya mengeluarkan cahaya biru muda itu. Biru muda seperti langit cekung dengan awan yang tidak pernah bergerak di atas mereka, dan diselimuti sinar yang menyilaukan tetapi tanpa matahari. Seokjin selalu mencium kejanggalan yang salah setiap ia keluar dari laboratoriumnya, karena entah apa yang menyebabkan, tetapi suara samar dalam dadanya selalu membisikkan bahwa dunia itu artifisial—dan ia selalu bertanya-tanya adakah suatu dunia yang lebih real.

Ketika langkah Seokjin memapas meter terakhir dan sampai di depan sebuah pintu baja, dua prajurit tadi berbalik meninggalkannya yang bersiap untuk masuk. Melewati prosedur seperti biasa, sebuah kamera yang bersimuka dengannya berkedip pelan dengan suara mesin robot, lalu segaris sinar laser menyensor sekujur atas hingga bawah tubuhnya yang berujung pada terbukanya pintu itu.

Ruangan familier itu tetap sama seperti saat ia berkunjung untuk menguji coba larutan pengebal tubuh terakhir kali, yang mana dikelilingi dinding kedap suara segelap jelaga dengan seperangkat sofa merah dan aroma seduhan kopi yang menggelenyarkan udara kematian yang kental. Sebenarnya Seokjin sudah menyiagakan telinganya sewaktu menggerakkan tungkai ke dalam, menyiasati gempuran oktaf yang menurut perkiraannya akan berofensif mendobrak kokleanya, tetapi ia segera terkejut lantaran nihil yang ia dapatkan. Tidak ada teriakan, derit telapak sofa, pecahan cangkir, atau cairan pekat yang menggenangi pualam di bawah mereka, bahkan sampai ketika ia berhadapan dengan wanita paruh baya yang menyambutnya di atas sofa tunggal itu pun kedamaian tetap memuncaki keadaan.

Nyali kelincinya kali ini besar juga, rupanya.

Seokjin menaikkan sebelah alisnya kala bersitatap dengan Roger—pria tinggi yang dengan pelan menyentuh bahu wanita itu dari belakang—dan sebuah anggukan didapatkannya dari sang rekan, ia lantas mengeluarkan stopwatch lingkaran dari sakunya untuk menandai seberapa cepat larutannya bekerja. Beringsut mendekatinya, ia menyadari beberapa kerutan yang terpeta di wajah wanita yang telah beruban itu, dan segaris senyuman aneh darinya yang mengejutkan. Aneh karena tampak tulus dan menyenangkan. Aneh karena tampak rindu dan berbahagia.

Aneh karena ia merasa pernah menjumpainya di suatu masa.

“Kim Seokjin.” Seokjin masih berusaha merapikan otaknya yang terporak-poranda kala sebuah gemetar suara lembut itu menceluskan dadanya seketika.

“Kita pernah bertemu … sebelumnya?” Ia berujar pelan, yang bahkan terdengar ragu bagi telinganya sendiri.

Seokjin mengira akan menerima seulas kurva positif dan anggukan melegakan tetapi alih-alih melakukannya, wanita itu membelalakkan mata dan beranjak dari sofa, berbalik dan memekikkan: “APA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN PADA SEOKJIN KAMI?!” kepada Roger.

Satu langkah Seokjin bergeser mundur saat Roger menampar wanita itu hingga terjerembap, dan teriakannya yang kuat sekonyong-konyong menenggelamkan perintah rekannya yang mengatakan cepat-lakukan-tugasmu menembus pendengarannya tanpa membuahkan arti apa-apa. Ada pergolakan yang aneh lagi-lagi berkemelut di dalam hatinya yang dingin, sesuatu yang membuka lembaran membran di kepalanya, terlebih ketika Roger berusaha membekap wanita itu yang berteriak meronta. Pekikan itu tak asing, juga gesekan sol sepatu Roger serta bentakan-bentakannya yang memaksa wanita itu diam, Seokjin merasa pernah mendengarnya di tempat yang jauh.

Tiba-tiba ia teringat akan mimpinya, dan sebuah gambaran samar berputar bak dokumenter yang tersendat-sendat. Ia melihat situasi dalam rumah yang kacau, perabotan berserakan dan dirinya yang ditarik ke belakang oleh beberapa orang. Ia juga menemukan wanita itu—yang seharusnya menjadi kelincinya—memohon di bawah kaki lelaki jangkung yang—

—tunggu, perlahan ia bisa melihat bahwa lelaki jangkung itu adalah Roger, dan sekeping ingatan yang paling dasar membawanya kembali ketika dirinya yang masih muda berteriak: “Mom!”

Seokjin merasakan suhu tubuhnya meningkat berpuluh derajat dan itu mendorong tangannya untuk menarik Mom dari cengkeraman Roger.

“Kau tahu apa yang kaulakukan?” Nada sinis Roger mengundang aroma kopi di ruangan itu semakin pahit dan memuakkan.

“Dengan segenap kesadaranku,” kata Seokjin. Genggaman erat terasa di lengannya, ia mendapati Mom menatapnya penuh harap sebelum melancarkan logikanya kepada Roger. “Laporkan saja, aku tidak peduli. Kau juga akan mati kalau percobaanku gagal dan kulepaskan kelinci kali ini. Impas.”

“Sampah!” Umpatan Roger itu malah terdengar menggelikan, Seokjin tertawa.

“Maksudmu … kau?”

“Kurasa beberapa sistem mulai rusak di kepalamu,” kata Roger. Air mukanya semakin naik darah dan emosi membuatnya tidak tahan untuk berdiam diri. Tangannya bersedekap lalu ia menghampiri Seokjin, memandang genggaman Mom kepada Seokjin dengan menyiratkan sorotan jejap. “Ada yang tidak beres, sepertinya kau butuh pembaharuan. Kau tahu, Victor tidak akan senang dengan sisi melankolismu yang menjijikkan.”

“Aku baik-baik saja, cemaskan dirimu sendiri, karena aku tidak bercanda kalau kau memang sejatinya sampah.” Seokjin menekankan gemuruh ucapannya, Roger mendecih. “Aku ingat semuanya—semua fail yang sengaja mereka hilangkan. Kau adalah sampah Victor. Kau yang menggeretku ke sini, ke bola dunia palsu. Aku ingat sekarang bahwa ada dunia yang benar-benar asli, dan itu adalah dunia ibuku yang mati-matian ingin rajamu kuasai.”

Seokjin tahu langkah bengis Roger yang beranjak dari tempatnya hendak mengadukannya kepada Victor, maka ia lekas menarik lengan bekas rekannya itu dan memasukkan larutan air mineral beracun bakteri di mulutnya sembari berpesan, “Sampaikan terima kasihku pada Victor karena mengacaukan sistem tubuhku.” Lantas kulit Roger serta-merta mengering dan keriput kurus membentuk tulang. “Satu lagi, otakku sudah terlalu higienis untuk terus-terusan dia cuci.” Kemudian ia tersenyum mengetahui wajah Roger menua drastis dan lubang matanya menciut ke dalam, membentuk tengkorak yang tertinggal kulit kerontang. Menit berikutnya Roger tergeletak lunglai dan sempurna tidak lagi bernapas.

“Aku akan menghancurkan semuanya dengan eksperimenku sebelum kita pergi, Mom, kumohon tunggu sebentar di belakang punggung Namjoon setelah kusadarkan dia mengenai arti mimpinya dulu.”

.

.

End.


A/N:

  • Jenis bakteri terinspirasi dari film The Tuxedo (action film directed by Kevin Donovan).
  • Sebenarnya bingung mau mengategorikan sci-fi atau fantasy he he he.
  • Terima kasih sudah membaca. ^^
  • (Updated) Betaed by Evin heuheu terima kasih nae saekki sarang everything. ❤ ❤
Advertisements

12 thoughts on “Artificial Space

  1. AKHIRNYA INI NETES JUGAAAAAA

    Jadi seokjin ternyata juga salah satu dari eksperimen mereka? My lord, kesayanganku seokjin :”””

    Pas seokjin akhirnya ketemo mom aku nangis masaaaa :” (emang dasar akunya manusia berjiwa melankolis ya) selebihnya pc ya beeeel :” ilysm

    Like

    1. BELLA AKHIRNYAAAA AKU DATANG LAGI HUWAAAAAA oke matiin capslock.

      ini tuuh sci-fi menurutku bel… uwooo genre yg cukup rumit. sampai selama baca tuh aku mikir “ini gimana bikinnya sih kok bisa keren banget” masyaallah. diksinya aduhaaiii makasih bella… nambah vocab banyak habis baca ini. oh demi semesta, seokjin hamdallah cepet sadar berkat ibunya huhu sukaaa sekali ada momen keluarga nyempil. ah, mana lift nya why keren sangat? meskipun aku perlu mikir dua kali buat naik tanpa kesetrum hehehe

      bel, ajarin aku bikin ginian yaallah. masih exited banget bisa jadi keren gini dengan pembawaan dan permainan diksi yg apik. woo makasih bel udah jadiin seokjin cast nya. makasiih 😘 KEEP WRITING!!! ^^

      Like

      1. HALOOOO KAK ANEEEE!

        nyiahahaha akhirnya ya kak akhirnya ada mas seokjin di blog aku semoga yang lainnya bisa cepat menyusul (doa sendiri). hah kak anee ah padahal mah kalau kak anee bikin juga pasti bisaa apalagi diksinya kak anee tuh jauh lebih kaya daripada aku heuheu pemula banget masih harus banyak belajar :”) anw liftnya ituu, pokoknya kalau berdirinya nggak melebihi red line tetap aman kok kak dont worry mau nyoba? yuk yuk wkwkwk.

        kak aneee ayo ajarin aku memperkaya diksi atuhlah kak KAK ANEE KEEP WRITING JUGAAA terima kasih banyak sudah mampir! ❤

        Liked by 1 person

  2. Bella scifinyaaaaa matimatimati
    Scifi rasa dystopia yah aku terharu ;-; keren bgt! Dan apa sih vocab ya Tuhan vocab aish kapan aku bisa menambah vocabku….
    Terus alurnya jg asyik ,tapi ada namjoon nyempil dan aku butuh sekuel
    Keep writing! XD

    Like

    1. Uwaaaa kak liana siapa yang mati siapasiapasiapa xD
      Kak li percayalah sesungguhnya aku belum tahu dystopia itu apa dan langsung browsing setelah baca komennya kak liana terus “ooooh jadi gitu maksudnya” xD terima kasih kak li aku jadi tau tentang dystopiaa.
      Ya Allah *cough* kak li *cough* sekuel? *cough* 😂😂😂
      Kak liana terima kasih sudah datang uhuhu keep writing jugaa! ❤️

      Like

  3. bel HAHAHAHAHA sci-fi itu salah satu genre yang aku craving sekali, cuma jaraaaaaaaaang banget ada yang nulis (halah kamu sendiri juga jarang nulis, vin WQWQ) jadi aku seneng banget dong ini kamu bikin beginian :”))))

    i feel something wrong sejak si seokjin ngerasa something wrong with himself (awalnya aku mikir kayak maze runner gitu cuci otaknya) dan beneran doooong ini si seokjin sama enjun beneran diculik dan dipekerjakan. TERUS TIBA-TIBA KELINCINYA SI MAMA COBA :(((( gimana ga sedih. aku lemah banget deh kalau udah di depan orang tua sama anak kecil, huhu.

    setuju sama kak liana, kayaknya butuh sequel nih HUEHUEHUE q ingin tau nasib si kodok gimana hehe xD but not rushing, thoooo huehue. semangat terus bel bel belakuuuu! keep writing! ❤ ❤

    Like

    1. vin! HAHAHAHAHAHA aku langsung lompat ke sini masa waktu denger ‘tiriring’ terus ternyata Fantasy Giver (padahal tadinya koar sendiri mau bertekad ngelanjutin-_-) jadi kaget sendiri “hah! evin online?!” wkwkwkwk xD

      vin serius ini aku kepikirannya tuh gara-gara nonton The Tuxedo, pernah nonton ngga? yang main jackie chan viiin jadi di awal film ada adegan pembunuhan di tengah rak tapi sadis gitu (sadisnya karena kepalanya dimasukin langsung ke something like galon isi air tapi lebih keren) terus dianya langsung sekarat kering dan mati. pas diteliti, eh ternyata yang dipake airnya berbakteri, dan efek bakterinya kayak gitu hahaha keren ya yang punya idenya :3 dan yaaah maafkan aku Mama aku nggak bermaksud membuat Mama dalam bahaya tapi akhirnya ada Seokjin kan alhamdulillah :”)

      mas kodoknya … vin apaka kamu yakin dengan sekuel nanti kalau Rachel muncul juga gimana :”) heuheu makasih banyak evin tersayangku keep writing jugaa! ❤ ❤

      Like

  4. Haii Bella, aku suka ceritanyaa. Detil sensoriknya bikin ngiri (karena aku lemah di situ) trus sci-fi dan distopia? Wow, you got me a complete package! Trus kosakatanya juga beragam, meskipun perlu hati-hati supaya kesannya tidak terlalu berat. Ada beberapa frase majemuk juga, yang di bagian-bagian tertentu sepertinya terlalu panjang jadi kesannya ambigu. Tapi selain itu aku angkat topi. Keep writing, Bella!

    Like

    1. Kak Amiii ya Allah kak aku terharu kak Ami mampir ke sini :””) serius kak aku harus banyak belajar dari Kak Ami soalnya sebenarnya aku lagi berusaha buat mengurangi detil yang terlalu mendetil karena kalau kebanyakan takutnya bikin bosan 😦 kosakata dan frase yang terlalu panjang noted kaaak harus lebih peka ini buat memperbaiki keambiguan. Terima kasih banyak kak yeokshi kusenang sekali Kak Ami mampir dan review (masih terharu) kak Ami keep writing jugaa! ❤

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s