Late Dinner

Kalau bisa jangan kembali atau aku yang akan giliran ke kamar mandi, Yoongi.

 

 

Aku tidak bisa mengerti. Hari ini terjatuh pada angka sembilan di dalam bulan ketiga tetapi dia masih saja bergeming di dalam kamarnya seolah mengasingkan diri dari dunia. Kakiku sudah mati rasa karena terlipat duduk bersila di celah kecil pintu ruangannya itu, dan lantai kayu rumah kami yang beberapa jam lalu hangat kini membuatku membutuhkan kain selimut. Menunggunya dua, tiga, atau bahkan empat jam lagi sepertinya tetap mustahil mengharapkannya menyadari presensiku. Headphone yang Jungkook hadiahkan padanya itu terlalu erat melekat di telinganya, dan tangannya yang mengenakan sarung tangan berbulu dari Taehyung belum pernah berhenti menekan tuts-tuts di peralatan musik di sekitar komputernya. Hah, Min Yoongi, menoleh sedetik saja seberapa besarkah sulitnya?

Sebenarnya aku sama sekali bukan penggemar susu vanila, namun sebuah gelas tinggi di sebelahku sudah kehilangan separuh isinya. Iya, tersangkanya adalah aku, tapi bukan untukku kubuat minuman itu pada awalnya. Aku ingin Yoongi berbalik jika membutuhkannya, untuk makan malam, untuk mengisi perutnya yang hanya terisi kue berlapis krim dalam rangka acara kejutan dari keenam teman-temannya selepas ia membuka mata pagi tadi, tapi nyatanya di sini akulah yang terlebih dulu termakan bosan dan melampiaskannya pada opsi minuman yang sebetulnya nyaris kubenci itu.

Mungkin Yoongi terlampau bersemangat, dan aku selalu ingat bagaimana frustrasinya ia ketika Tuan Ide memusuhinya dalam kurun waktu yang tidak pernah tepat, maka kupikir inspirasi-inspirasi fantastis yang mengalir dari perasaannya yang tengah berbahagia kini tidak seharusnya diinterupsi olehku yang hanya mengharapkannya untuk makan.

Tapi setengah hari sudah ia habiskan untuk duduk di depan meja kerjanya, apakah aku masih harus tetap diam dan pura-pura menutup mata?

Aku merasakan tungkaiku kaku ketika bangkit dan kesemutan menjalar cepat, tanganku merangkak dari pintu ke dalam tembok ruangan Yoongi. Ia masih belum mengindra kedatanganku, tentu saja, jadi aku sengaja memukulkan telapak tangan kiriku ke spasi mejanya yang kosong. Yoongi terkejut, bukan karena kedatanganku tapi lantaran tepukan keras tanganku lalu menggumamkan, “Kau itu perempuan, jangan bersikap seperti preman.”

Itu bukan sesuatu yang penting untuk ditanggapi, maka kurenggangkan sedikit sebelah sisi headphone-nya. “Ayo ikut aku keluar, sebentar,” kataku.

“Lihat.” Mendadak ia mengamati puncak kepala hingga ujung kakiku, tinggal menunggu kalimat sembrono apa yang terlontar darinya setelah ini. “Perempuan baik-baik akan berbicara ‘tolong temani aku keluar sebentar saja’, bukan? Tunggu, kau sudah mengantongi beberapa koin dari teman-temanmu, siapa tahu? Janganlah, Yoon.” O, ya, ia sedang mengajak bermain peran dengan aku sebagai preman dan dirinya sendiri adalah seorang kakak teladan, rupanya.

“Tentu, dan dari uang mereka ingin kubelikan sesuatu.” Terserah, kutanggapi saja dagelannya. “Kalau kau ikut aku keluar, kuberi sebagian kecil untukmu.”

“Tidak lebih dari sebagian kecil?” Pelafalannya mulai tak jelas dan tangannya melepas headphone yang terpasang. Kedua matanya hampir kehilangan fokus tapi sekali lagi, ia belum makan. “Tidak, Yoon. Ada dua—atau tiga?—ikan kalengan yang tersisa dalam kulkas. Ini sudah malam, buat saja itu kalau perutmu lapar.”

“Aku?” Tidak, ini bukan tentangku, tapi dia. “Min Yoongi, ayolah, menurut pada adikmu tidak akan menambah dosa.”

“Sama seperti makan tanpa kakakmu juga tidak akan menambah dosa,” katanya. “Tapi aku yakin seribu persen, kau tidak—“

“Aku sudah. Lihat itu.” Kutunjuk gelas berisi setengah susu putih yang tergeletak di sisi ambang pintu. “Aku yang meminumnya. Kau percaya?”

“Separuh gelas itu yang kauanggap makanan?” Ia tertawa, entah karena apa. “Kau hanya minum, Yoonbi, kau juga belum. Dan lagi, aku ragu jika kau memang berniat membuatnya untukmu sendiri.”

“Ayolah, apa itu masalah?” Hela napasku tidak bisa kutahan lagi kala kusadari terembus panjang sekali. “Sebentar saja, please, keluar dari kamarmu dan kita makan bersama.”

Yoongi mengusap kelopak matanya sejenak dan menggerakkan bola bermanik di dalamnya beberapa putaran, sebelum akhirnya ia mengerahkan kekuatan di kakinya untuk berdiri. Lirikannya tampak dimalas-malaskan ke arahku seiring ia berjalan menuju pintu. Aku mengekor di belakangnya, membelokkan punggungnya yang hendak ke kamar mandi untuk menengok ke meja makan sebentar.

“Hei, jangan macam-macam dengan orang yang ingin buang air kecil!” Ia memekik, tetapi kemudian tubuhnya terpaku saat mendapati dua buah piring kosong yang berhadapan, semangkuk ikan kalengan matang, dan sepanci sup rumput laut di sebelah piring yang bertempat di kursi miliknya.

“Kau sendiri yang sudah membuat supnya mendingin.” Bahkan aku tidak bisa menatapnya ketika mengatakan itu. Canggung memaksa ludahku terteguk dengan kikuk, pahit—sial. “Jadi kalau rasanya kurang pas, kita menanggung kesalahannya sama-sama.”

“Ini tidak biasanya kau—“ lalu mataku bertemu dengannya, dan kalimat di lidahnya tampak tertelan ke dalam kerongkongannya kembali, bibirnya mengatup gugup. Duh, canggung ini benar-benar. “Sudah kubilang aku ingin ke kamar mandi dulu!”

Iya, lebih baik begitu, kalau bisa jangan kembali atau aku yang akan giliran ke kamar mandi, Yoongi.

 

 

End.


A/N:

  • The real title: Seharusnya 9 Maret.
  • The really real title: Lebih Parah daripada Seharusnya 30 Desember.
  • Mohon pahami keabsurdan dan ketidakjelasan semua ini. :”)
  • Terima kasih sudah membaca. ^^
  • (Updated) Betaed juga by Evin uhuhuhu terima kasiihh. :3 ❤
Advertisements

6 thoughts on “Late Dinner

    1. bella ini lucu sekaliiii! btw kamu lagi produktif ya bel kayanya? sebelumnya aku liat fic kamu yang seokjin juga di dasbor, tapi aku skip karena ternyata itu scifiiii huhu aku lagi not in the mood for scifi nih, pengen baca yang ringan dan ga bikin mikir aja (slapped) (punched).

      umm okay ayo kita bahas ceritanya sebelum aku diusir bella karena blabbering. like i’ve said before bel, ini lucuuu! kakak-adek sama aja ya ini tuuuh, sama-sama gengsian tapi sebenernya peduli :”) fiksi family yang ditulisnya bagus emang heartwarming banget ya huhu. awalnya aku pikir si cewek ini pacarnya yoongi loh, ternyata bukan hahaha.

      yeokshi bellakuuu nulis terus yaaa bel ❤

      Like

      1. nadseuuuuu huhu iya ini mau-nggak-mau harus produktif karena untuk merayakan hari kelahiran yoongi hahahaha meskipun selalu aja dadakan dan pas ulang tahunnya mau habis :”) hoooo yang seokjin itu ya sebenernya yang itu aku awalnya nggak yakin gitu, nad, mau masukin ke kategori scifi atau fantasi tapi sepertinya iya lebih tepatnya ke scifi ya (dan baru tahu karena kak liana kalau agak merembet ke dystopia) wkwkwkwk xD

        uwu nadyaaa nggak aku nggak akan mengusir kamu apa pun yang terjadi believe me tidak akan! first thing first perkenalkan min yoonbi adik yoongi yang agak-agak juga sifatnya kayak masnya :”) alhamdulillah nad terima kasih banyaaak heuheu sebetulnya kujuga nggak paham sama gengsinya mereka tuh kenapa gede banget kalo urusan kasih sayang. heran. :”)

        yeaaa terima kasih banyak sudah mampir B-blood sister kamu juga semangat nadyaaa! ❤

        Like

  1. bel, kalo kamu ga nulis ini aku lupa min yoongi dilahirkan di dunia ga jatoh dari surga langsung gede, ganteng, males gitu (eaq) HAHAHAHAbaikan 😦

    anyway anyway kalau dibanding seharusnya 30 des, aku bisa ngeliat progress kamu banget, lho. entah itu teknik, diksi, cara penulisan dan sebagainya. OIYA AKU LUPA BILANG yang di fiksinya seokjin itu, vocab kamu beragam banget aku terharu bacanya :”))))) banyak banget yang noted lho kata-katanya. kayak higienis, mengular terus apa tadi pokoknya banyak deh. di sini juga sama. jadi yeokshi bella tulisannya berkembang banget cuma tenggat 3 bulan padahal. mungkin di sini kekurangannya masih banyak tanda baca di konversasi yang salah sih, but selain itu sudah greaaaaat soalnya itu mah belajar juga cepet hehehe.

    buat isinya, aku sukaaaaaaaaaa. yoonbi-yoongi yaelah gengsi-gensian canggung-canggungan ya kalau mau ngaku sayang. untung pacarnya yoonbi kalo mau ngomong ya ngomong aja HAHAHAHA tapi aku gemes sama mereka soalnya related dan real life sekaliiii!!

    yosh semangat bel bel belakuuh! dan hbd myg meski telat 5 hari huehue. have a nice evening! ❤ ❤

    Like

    1. VIN JANGAN DIGITUIN MIN YOONGI NANTI KEPALANYA GEDE DAN AKU BUTUH KRESEK 😦

      vin aku lebih lebih lebih terharu sama komenmu heuheu tersayang evin (stiker line hug). salah satunya tanda baca di konversasi yang terakhir koma dan awal kalimat huruf kecil itu bukan? aku paling bingung mesti di bagian itu soalnya kalau baca di suatu tempat kadang kayak gitu kalau yang bicara tetep orang yang sama, tapi kadang juga nggak kayak gitu. please tell me about all of my faults ya vin help 😦

      wkwkwkkwk ya gitulah vin si adek sebelas-empat belas sama masnya hahahaha dan “untung pacarnya yoonbi kalo mau ngomong ya ngomong aja HAHAHAHA” TANGGUNG JAWAB AKU KETAWA GEGULINGAN WQWQWQWQ AH EVIN AH SA AE KAMU SINI TAK PITING xD

      myg: thanks, vin (sambil matanya cuma segaris) ((tidur lagi)).

      terima kasih viiin huhu my love semangat juga dan have a nice evening tooo! ❤ ❤ ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s