The Dawn Promenade

winter-photography-cars-street-wallpaper-night-trees-light-snow

The Dawn Promenade © Fantasy Giver & Cake Alleb

Why did I do that the other day? It’s a sleepless night again today.

“Min Yoonbi.” Sapaan Taehyung menjadi satu-satunya pemecah regangan geming setengah jam terakhir. Yang dipanggil menoleh pada karpet di bawah ranjangnya dan menemukan yang bersangkutan sedang mencebik. Dia menarik ujung selimut si gadis sedikit.

“Hmm?”

“Aku tidak bisa tidur.” O, ya ampun, desahannya berlebihan sekali. “Bosan juga. Sepertinya ada arcade di bawah. Main, yuk.”

Sebelah alis Yoonbi terjinjing, lantas melirik Rachel yang berbaring membelakanginya. “Dan meninggalkan Rachel di sini bersama teman-temanmu?” Dia menggeleng mantap. “Tidak, Tae.”

“Kalau begitu bangunkan saja—ajak kalau perlu. Yoon, please?” Taehyung kembali menarik selimut Yoonbi dan mengeluarkan jurus andalannya kalau: satu, Yoonbi merajuk; atau dua, Yoongi merajuk. Begitulah. Dua-duanya sama lemah jika telah dihadapkan dengan puppy eyes milik si sulung Kim. Kakak-adik memang sama sesering apa pun mereka menyangkal.

Awalnya Yoonbi sangsi—sungguh dia sudah terlalu banyak menyulitkan Rachel seharian ini—dan membangunkan gadis itu dirasanya begitu kurang ajar. Tetapi ketika sahabatnya bergerak dan memutar tubuh, ternyata dia masih terjaga.

“Aku bisa mendengar semuanya, Tae,” ujarnya dibumbui nada kesal. Rachel tidak bisa melihat Taehyung, tapi tatapannya disalurkan Yoonbi pada sang pacar melalui jari-jarinya. “Tapi baiklah, deal. Ayo turun; aku juga bosan. Asal kau berjanji tidak memonopoli Yoonbi seperti sepanjang perjalanan tadi.”

“Ha, memonopoli.” Taehyung mendecak. “Ayolah. Yoonbi itu pacarku, jadi normal ‘kan kalau aku ingin selalu bersamanya? Makanya cepat cari pasangan sana supaya tidak kesepian. Lagi pula, sepanjang perjalanan kau juga sibuk bicara dengan Namjoon sampai-sampai kukira kalian—”

“Namjoon kepalamu botak!”

Dan Yoonbi bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya kalau Rachel sudah mengambil kuda-kuda duduk dan mengangkat bantalnya. Dengan cepat, si bungsu Min segera menahan tangan Rachel sambil mendesah dalam-dalam. “Wow, oke, berhenti di sana. Ayo turun sekarang sebelum kalian saling menumpahkan darah.”

Memang muncul gencatan senjata, tapi lirikan tajam itu bisa memulai perang dingin pasca adu rudal. Maka, Yoonbi tak menghabiskan tedeng aling-aling demi bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke kapstok, meraih mantel yang setengah basah akibat terkena serangan salju.

Ekspedisi ini diawali dari keinginan Yoongi dan enam koloninya akan road trip keliling Republik Korea Selatan yang Raya, kemudian dilanjutkan oleh mulut bocor Taehyung kepada Yoonbi. Yah, gadis itu sempat mempertanyakan tingkat kewarasan lingkaran pertemanan kakaknya, sih. Kenapa mengadakan road trip pada musim dingin? Kenapa tidak saat musim panas dan mereka bisa mendapat asupan sinar matahari yang hangat nan luar biasa menyenangkan? Kenapa harus naik ke gunung dulu baru turun ke pantai, bukannya ke hutan?

Sebuah itinerary kelewat tidak masuk akal buat seorang Min Yoonbi.

Iya, tapi harus digarisbawahi bahwa pikiran macam itu hanya lewat di depan. Salahkan Taehyung yang memberi persuasi implisit—walhasil menjadi sumber keinginan sang pacar mengekor—lalu dua minggu sebelum keberangkatan, gadis itu malah mengadakan upacara pemakaman untuk gengsinya demi merengek pada si sulung supaya diperbolehkan ikut.

Memang sebuah perjuangan sulit untuk membengkokkan prinsip Yoongi, tapi jangan taruh marga Min di depan namanya kalau Yoonbi tidak mampu mendapatkan hasil yang memuaskan. Akhirnya, setelah usaha bermanis-manis seminggu penuh, ada satu syarat yang harus dipenuhi sang adik demi mendapat sebuah bangku di van rental milik tujuh pemuda miring tersebut: Yoongi minta Yoonbi ditemani seorang gadis lain. Dia tidak mau adiknya diapa-apakan Taehyung kalau pemuda itu sedang lengah, alasannya.

Dan setelah memohon dengan sangat—”Ayolah, please, please, please, kau tak harus mengacuhkan kakakku dan semua temannya nanti. Seluruh makananmu sepanjang perjalanan aku yang tanggung dan kau akan dapat tempat duduk terbaik,” diucapkan tanpa gentar selama empat hari empat malam—Rachel Seo, sahabatnya, yang sekaligus musuh bebuyutan Taehyung di masa sekolah menengah, menyetujui permintaan Yoonbi. Dia sedikit cemberut ketika datang sambil menggeret kopernya di tengah musim salju yang dingin.

(O, Rachel sudah menghabiskan setengah budget akomodasi Yoonbi, omong-omong. Haha. Balas dendam memang manis. Siapa suruh menyatukan dua orang yang punya citra bak Tom and Jerry? Masih lebih baik karena tidak ada adu sepatu atau perang obor seperti kebiasaan mereka dulu.)

Dan dikiranya pelancongan tidak bisa makin menarik.

Sekitar pukul sebelas dini hari, badai salju muncul dan Jeon Jungkook mengeluh dari kursi sopir tentang ayo-cari-penginapan-sebelum-kita-terjun-ke-jurang. Iya, jarak pandang sudah tak bisa ditolerir. Mereka sempat berputar tanpa arah selama beberapa saat dalam kecepatan minim sebelum berhasil menemukan bias neon motel pinggiran jalan di sela tumpukan salju yang kian tebal. Yoongi dan Hoseok segera berlari untuk mengurus check-in—satu kamar paling besar untuk bersama supaya murah—lalu setelah menurunkan barang-barang yang diperlukan, kesembilannya naik bersama-sama.

Dan beginilah pada akhirnya; terjebak beberapa kilometer sebelum Gyeongsangbuk-do bersama desauan angin yang mengerikan dan udara beku. O, mari berdoa semoga keadaan van mereka baik-baik saja di luar sana. Amin.

Sejatinya, sedikit banyak Yoonbi merasa bersalah lantaran mengambil andil paling besar dalam menerjunkan Rachel ke petualangan suram kakaknya. Maka, untuk mengganti rugi, selama mereka memutari arena arcade yang sepi—ini setengah satu pagi, badai salju dan areanya ada di dalam sebuah hotel reyot—dia berdiri di samping sahabatnya dengan lengan yang saling terkait. Inginnya sih menemani, cuma Yoonbi lupa dia juga membawa seekor anak kucing yang kelewat manja.

“Yoon, ayo main yang lain. Aku mau coba Donkey Kong.”

“Yoon, kenapa sih kau tak mengacuhkan aku? Pasti gara-gara Rachel.”

“Yoonbi, kemarilah. Rachel bisa jalan sendiri, kok.”

“Yoonbi Sayang~”

Astaga, serius. Rachel tinggal sejengkal lagi menjejali mulut Taehyung dengan bola basket.

Tapi puja mutiara ajaib, ada saja mukjizat bagi kehidupan Min Yoonbi di dunia. Ketika perang hampir dimulai (lagi)—dan Yoonbi kembali memikirkan metode baru untuk melerai keduanya dengan malas—tiba-tiba kawan kakaknya yang paling jangkung keluar dari lift berbau apak di depan arena, hanya mengenakan sebuah hoodie kumal kebesaran, celana jeans yang entah berapa minggu tak dicuci, dan sepasang sandal jepit.

Ah, si sinting ini.

(Eh, tapi tidak apa-apa, deng. Sinting-sinting kalau bisa membantu, Yoonbi menerima presensinya dengan senang hati.)

“Namjoon!” Dia memanggil, lengkap dengan ekspresi frustrasi yang paling bagus. Oke, sekarang dia hanya perlu membujuk Namjoon supaya bermain juga, otomatis Taehyung akan berhenti menempel padanya dan—boom!—dia akan bisa leluasa tinggal di samping Rachel tanpa susah payah memutar otak tiap perang dunia.

Iya, inginnya Yoonbi sih begitu, sebelum silabel yang keluar dari mulut Namjoon malah sekonyong-konyong memecahkan gundukan rencana di kepalanya. “Kau tahu di mana laptop-ku?”

Jangan salahkan Yoonbi jika gadis itu nyaris tersedak. Bukan, bukan karena pertanyaan Namjoon yang intensitasnya setara jadwal makan dalam sehari, tapi gelegak tawa Taehyung yang menghalilintar beberapa meter di belakangnya. Tanpa berpikir dua kali gadis itu berbalik. Menusukkan tatapan jangan-macam-macam-atau-kotak-ketawamu-kucuri dan berhasil membungkam yang bersangkutan.

“Sudah pernah main Donkey Kong, belum?” Taehyung mendekat, mengajak Namjoon dengan lagak sok jagoan.

“King Kong?”

“Donkey Kong! Makanya sekali-sekali ikut hangout, dong, biar tidak stres.” Taehyung membuat gestur provokasi dengan menjawil dagu si pemuda yang lebih tua. “Sia-sia saja kalau kau jauh-jauh ke sini tapi ujungnya hanya sibuk dengan laptop.”

“Terserah kau mau omong apa, aku cuma ingin laptop-ku.” Namjoon tetap defensif. Alisnya berkerut dan bibirnya ditekuk. Ia sudah hampir melanjutkan langkah, namun tampak berubah pikiran saat suara Rachel tiba-tiba menggema dari samping mesin arcade.

“Hei, badai di luar belum reda. Kau ingin menerjangnya pakai apa? Jarak parkir mobil kita tidak dekat, lho.”

Uh-oh! Apa kau juga sependapat kalau mereka kedengarannya sudah akrab? Kalau iya, silakan bergabung bersama squad Yoonbi dan Taehyung yang saling melempar lirikan jahil sekaligus memanen seringai puas.

Hal yang mendukung gagasan itu adalah gerik Namjoon kemudian. Hela napasnya membangun aura kasihan hingga menarik Rachel mengambil tempat di depan Donkey Kong.

“Kau belum pernah main, rupanya. Coba sekali tidak ada salahnya, ‘kan? Paling tidak sampai badainya reda.”

Ajaibnya tanpa ba-bi-bu Namjoon mengamini ucapan Rachel. Pemuda itu merilekskan bokong di samping sang gadis dengan tangan bersiap duel. Setelah menekan tombol start, layar terbagi menjadi dua. Dan permainan menyelamatkan sang putri dari gorila itu berlangsung dengan satu aturan: yang kalah harus bertukar tempat untuk melawan si juara bertahan.

Untungnya, kejadian demikian membuat si empunya laptop seperti lupa pada keluhan kehilangan barang jilid keseratusnya satu jam kemudian. Namjoon terlalu sibuk adu mulut ketika kalah balap mobil dengan Taehyung, kemudian bersorak bahagia saat menang atas si bungsu Min—diiringi cemoohan dari pacar yang bersangkutan, tentu—untuk sekadar mempermasalahkan eksistensi komputer lipat. Semuanya jadi aman dan tenteram bagi Yoonbi.

Ah, sembah semesta, rencananya berhasil.

Sampai … masalah anyar timbul saat sang juara bertahan—Taehyung—mulai mengeluh lapar. Kalau di sini disediakan bar atau kafetaria yang buka 24 jam sih tidak akan membuat ketiga lainnya—terlebih si gadis keturunan Min—jadi gelisah. Tapi kenyataannya bermalam di sebuah hotel reyot tidak akan membuatmu berani berharap terlalu besar. Ada satu opsi yang mendarat di otak Namjoon kala itu: toko serba ada di sebelah hotel. Si pemuda bilang kalau tadi dia sempat melihatnya sebelum Jungkook membelokkan mobil kemari. Lagi pula embus angin sudah berhenti membadai, salju berubah ringan melayang-layang, jadi mereka sepakat untuk benar-benar keluar.

Memang sudah kebiasaan Taehyung berwara-wara tentang bagaimana seorang pria harus berdedikasi pada kekasihnya. Maka, dia bergegas naik kembali—dengan menggeret Namjoon—ke kamar untuk mengambilkan topi beserta syal setelah melarang para gadis ikut. Ya, tapi namanya juga Namjoon; dia tidak akan terjerembap langsung ke dalam jebakan Batman. Tapi ternyata hei-aku-bukan-pacarnya-Rachel dari pemuda jangkung itu bisa dikalahkan oleh senjata setidaknya-pria-itu-harus-gentleman yang diberondong mulut manis Kim Taehyung.

Udara beku menggigit pori-pori wajah ketika keempatnya lolos dari hotel. Jejak sepatu bot mereka membentuk lubang-lubang di permukaan es sehingga berjalan saja agak membutuhkan tenaga ekstra. Rachel sudah menduga bila dia akan tertinggal jauh lantaran mustahil Taehyung tidak memonopoli kekasihnya. Jelas, memangnya apa yang bisa dia harapkan? Lihat betapa enggan si musuh bebuyutan—yang selalu mengikrarkan diri sebagai calon adik ipar Min Yoongi—melepas tangan sahabatnya.

Ew, menyebalkan.

Tak sadar lantaran terlalu dirundung benci, tiba-tiba saja langkah mereka sudah sampai pada bentangan aspal. Pada tahap ini, level bahaya meningkat, sampai-sampai berjalan di permukaan licin itu terasa seperti memakai sepatu roda—hehetidak separah itu juga, sih. Tapi cukup membuat Namjoon sempat terpeleset hingga Rachel mendengar suara, “Woah!” yang tertahan dari belakang. Nah, di situlah dia baru sadar kalau sejak tadi Namjoon mengekorinya. Coba dia terlambat satu detik buat menggapai tangan si pemuda, pasti Namjoon sudah benar-benar terjengkang.

“Lama sekali kalian.” Ya, betul. Belum juga Rachel dan Namjoon bernapas lega di teras minimarket, lelaki yang lebih muda sudah kembali mengoceh. “Tapi yah, proses pendekatan memang begitu, sih. Jadi kali ini kumaafkan.”

Kalau sahabatnya tidak menggandeng paksa pemuda itu masuk duluan, Rachel bersumpah bakal mendaratkan bogemnya di hidung si sialan itu sampai mimisan. Iya. Sampai copot kalau bisa.

Keranjang berisi air mineral, susu cokelat, dan empat roti yang sudah Namjoon pastikan tenggat kedaluwarsanya berakhir di atas meja pembayaran. Saat menunggu belanjaan mereka ditotal, Taehyung berbisik-bisik di telinga Yoonbi kalau mungkin kasir berkuncir kuda itu habis diputuskan pacarnya. O, asumsi berdasar cetek, memang—tapi bisa jadi, sih.

Kalau diamati, kelopak mata perempuan itu tampak gembung; menyimpan banyak air yang cuma butuh sepersekian sekon lagi mengucur. Tapi sayangnya si kasir masih cukup muda sehingga telinganya bekerja dengan baik. Mampus. Lirikan ganas kasir itu bahkan dua level lebih tinggi daripada kepunyaan Seokjin kalau makanannya direbut Jungkook.

“Rachel, maksudmu? Iya. Rachel, ‘kan? Kasihan sekali memang dia baru putus. Beruntung ada Namjoon. Iya, ‘kan, Tae?” Yoonbi tertawa garing sambil menyikut figur yang membatu di sebelahnya. Kurva senyumnya tampak malang seolah baru tersandung di depan dekan fakultas.

Taehyung yang tidak tahu harus berbuat apa selain mengulum bibir, bergegas menyalurkan dompet dari saku ke tangan adik perempuan Yoongi, lalu menemukan dua temannya yang lain menahan semburan tawa di pintu kaca minimarket.

Bahagia sekali dua orang itu kelihatannya. O, lihat saja pembalasan Taehyung sebentar lagi.

Dan saat yang ditunggu-tunggu si pemuda pun tiba di tengah ekspedisi mereka mengarungi jalanan licin. Iya, sebenarnya keempatnya bisa saja kembali ke hotel tanpa kendala kalau Namjoon tidak mengajak ke parkiran tiba-tiba. O, astaga. Ternyata kegelisahan akan laptop-nya belum kandas sepenuhnya. Taehyung pun mengambil momentum saat dirinya dan Yoonbi saling bersitatap; memutuskan untuk mendahului masuk. Tangan pacarnya kelewat dingin, kata Taehyung, dia takut gadisnya terserang hipotermia.

“Tunggu. Apa? Siapa bilang aku gampang ter—“

“Ayo masuk sekarang, jangan memaksakan diri.” Lalu kedipan mata Kim termuda membuat dengusan pacarnya mengudara. “Ayolah, Sweetheart.”

Yah, Taehyung memang payah dalam membangun alibi; Rachel tahu benar. Hipotermia? Bullshit. Berani taruhan; dua sejoli itu pasti sedang mengatur rencana demi mendekatkan dirinya dengan Namjoon.

Hah. Terserah mereka sajalah, yang penting uang makan bukan dia yang tanggung.

 “Jaga dirimu, El. Aku jamin kalian tidak akan lama di luar sini.” Yoonbi menggenggam tangan Rachel seolah hendak terpisah satu abad. “Dengarkan, aku jamin.”

Akan tetapi, Taehyung seakan kurang setuju. Dia memutar mata, segera memutus kontak dua gadis itu dan menarik Yoonbi pergi. Langkahnya panjang sementara Rachel dan Namjoon sama-sama mendengar rengekannya sepanjang jalan menuju lobi: “O, astaga. Rachel bisa menjaga dirinya sendiri, Yoon. Kau juga kenal bagaimana Namjoon. Sekarang kau yang ganti dengarkan aku: jangan lepas lagi dari lenganku.”

Iya, benar-benar serupa anak kucing kurang kasih sayang.

Setelah Taehyung dan Yoonbi meninggalkan mereka—ditambah teriakan bagaimana-bisa-kalian-benar-benar-pergi oleh Namjoon yang cuma dianggap angin lalu—hanya dehaman canggung si pemuda jangkung yang mengisi sepi. Mereka melanjutkan langkah menjauhi pintu hotel, namun alih-alih membiarkan Rachel berjalan di belakang, lelaki itu menjaganya tetap bersebelahan. Hening terus mendominasi hingga Rachel mendapati sesuatu yang lucu: Namjoon selalu mendadak batuk setiap kali sorot ekor mata mereka bertumbukan.

Jadi demi memecah kikuk, Rachel bergumam memulai konversasi. “Aku ….”

Wow, jika mengatakan sesuatu yang sama dengan serentak termasuk dalam ciri-ciri manusia kembar, maka gadis itu harus buru-buru membawa pulang Namjoon ke rumah ibunya untuk menyampaikan kabar bahagia: “Finally I’ve found my twin, Mom!”

Tapi tidak. Biarkan fantasi absurd itu cukup mengendap di kepala Rachel karena yang dia lakukan sebenarnya adalah terpana bersama lelaki itu sambil menertawakan insiden mereka yang kerap ada di drama-drama.

Sampai ketika kekeh keduanya perlahan mereda, Namjoon barulah berkata, “Kau duluan.”

“Oke.” Gadis itu menciptakan bola-bola asap lewat napasnya. “Tenggorokanmu baik-baik saja?”

“Hm?” Tampaknya si pemuda tidak menyadari kebiasaannya yang itu, tapi tiba-tiba dia tergagap tatkala ingat. “O, itu … aku … ya, tidak ada masalah. Hanya sedikit gatal. Kadang-kadang. Kau mengertilah. Ini pukul setengah tiga dan … musim dingin.”

Kurang koheren, tapi Rachel membiarkannya lolos. Dia mengangguk dengan alis terangkat sebelum menimpali, “Sekarang giliranmu.”

“Aku ….” Namjoon mengedikkan kepalanya ke arah pintu masuk hotel. “Aku bisa menyelesaikan ini sendirian, lebih baik kau masuk saja.”

Entah pendengarannya yang sedang melankolis atau bagaimana, tapi cicitan suara lelaki itu mendadak bertransformasi menjadi sesuatu yang kelewat pitiful di telinga Rachel. O, betapa kasihan. Akhirnya gadis itu menepuk lengan Namjoon saat mengatakan, “Tenang, aku tidak mudah terserang hipotermia.”

Lesung pipi pemuda Kim segera muncul lebih dalam, tapi langsung tergantikan kerutan di kening saat getar ponselnya menampilkan pesan baru.

Itu dari Taehyung yang mengabari kalau … tunggu. Ini gila.

Sontak Namjoon melirik Rachel, membuat si gadis melemparkan tanya melalui pandangan. “Rach, sejak kapan laptop-ku bersarang dalam kopermu?” tanyanya dengan nada inosen.

“Koperku?” balas Rachel. Dia menelengkan kepalanya sambil mengingat-ingat. “Aku bahkan tidak pernah menyentuh laptop-mu, Namjoon. Tidak pula memasukan apa-apa ke koperku. Atau—tunggu.” Sebuah ingatan menabrak si gadis dengan kecepatan roket. “Ini pasti—”

“Taehyung?”

“Yoonbi!” Rachel mendengus keras-keras. Tangannya meraih ujung lengan Namjoon dan menggoyangkannya penuh kekesalan. “Namjoon, Yoonbi tahu passcode koperku! Ini pasti ulahnya! Ini pasti ulah mereka!”

Mendengar hal demikian, Namjoon tak mengambil jeda untuk mengajak bicara si pengirim. Ia sengaja meninggikan volume panggilan supaya gadis yang membulatkan mata di hadapan bisa turut mendengar. Dua nada sambung mengisi desau angin sebelum pasangan tidak tahu diuntung itu menyambut dengan nada ceria di layar video call.

SURPRISE! HAHAHAHAHAHA. KALIAN COCOK, LHO. SERIUS!”

“O, FOR THE SAKE OF PETE!” Bariton Namjoon melengking. “Sembunyikan bokongmu sekarang kalau kau ingin selamat, Tae!”

“Dan Yoon, aku akan minta Yoongi membunuhmu untuk kami!” susul Rachel sambil melompat kecil supaya presensinya ikut tertangkap kamera depan sang lelaki tinggi. Alhasil usaha kerasnya itu menarik atensi Namjoon menatapnya. Padahal, sumpah, dia tidak bermaksud diperhatikan begitu! Di saat seperti ini—dan kapan pun—gadis itu ingin doanya dikabulkan: agar dijatuhi botol berisi bubuk peninggi badan dari langit, salah satunya.

Tapi—entah Rachel harus bersyukur atau merutuk lagi—situasi aneh di antara mereka segera pecah lantaran pekik histeris dari pasangan di seberang.

“KAMI?” Nilai sempurna untuk kekompakan mereka. “Sejak kapan kalian berdua bisa berubah jadi ‘kami’?!” Dan tambahan dari Yoonbi.

“Memangnya apa lagi kalau istilahnya bukan ‘kami’? ‘Kalian’? Kau lucu, Yoon.” Akibatnya Rachel yang mengambil alih situasi, lantaran tidak ada yang Namjoon lakukan selain bernapas teratur sambil memandanginya seolah dia serupa artefak semasa Dinasti Joseon. “Lucu sekali.”

“Sudah kalian cepat masuk!

—atau masih mau berduaan di sana? Taehyung menyela.

—tidak, tidak boleh kedinginan lebih lama! Kalian harus masuk!”

Fin


A/N:

  1. Akhirnya :”) very apologize to evin aku lama bangeeeet :””))
  2. Such a great honour kolab sama evin ya ampun ((masih terharu lho)).
  3. Komentar dan unek-uneknya ((unek-unek jare)) silakan di publish-an Fantasy Giver yaa biar fokus gitu hehe.
  4. Terima kasih sudah membaca. ^^
Advertisements