The Arc

dark_rainbow_by_jenittfur-d4amvtw

Terkadang Zoey ingin mengumpati klannya yang sialan.

Ada satu hal yang membuat Bibi Florence termasuk dalam jajaran manusia yang memang ditakdirkan bernasib nahas menurut catatan dalam kepala Zoey: ketidakhadiran suaminya yang alih-alih memberikan penghormatan terakhir di upacara pemakamannya, pria itu lebih mampu membangun busur spektrum fenomena optik.

Well, hujan terakhir di musim panas turun pada akhir Juni; tapi saat pertengahan Juli, yang mana hari itu seharusnya menjadi momen duka, warna cerah bertingkat tersebut menampakkan diri seolah siap mengantarkan arwah Bibi Flo yang bakal melewati angkasa. Zoey tidak peduli dengan isakan para pelayat wanita; gadis itu dan ayahnya yang bersurai jelaga adalah figur paling tenang di antara mereka yang sibuk membuang ingus. Kehilangan anggota keluarga bukanlah perkara mudah, tapi keahlian mengikat emosi ke dasar perut sudah pernah teruji di masa tersulit mereka.

Namun Paman Billy berbeda.

Suami mendiang Bibi Flo itu duduk terkejang-kejang sendirian ketika Zoey beserta ayah menduga keberadaannya di taman belakang rumah—dan itu benar. Pria berbariton lembut yang masih mengenakan setelan gelap di samping gadis itu melafalkan supaya sang anak berganti baju dan beristirahat. Tentu saja Zoey mengiakan; tetapi setelah ayahnya berbalik, dia tetap berdiri di sana, melihat Paman Billy diusap-usap punggungnya oleh sang kakak tertua.

Sungguh malang. Pelangi masih memancar dari kedua mata pamannya yang membelalak.

Terkadang Zoey ingin mengumpati klannya yang sialan. Gadis itu ingat perihnya yang melampaui sengatan listrik di mata, terus mencuar sebagai ganti tangisan apabila disetarakan dengan kaum manusia.

Cukup sekali dia merasakannya. Satu tahun yang lalu saat ibunya meninggalkan dunia.

.

End.


 A/N:

  1. Guaje.
  2. Terima kasih sudah membaca. 🙂
    Advertisements

    5 thoughts on “The Arc

    1. Jadi kak bel, ini klannya zoey kalo nangis keluar petir? Eh apa pelangi? Jadi si pamannya bukan nangis air mata gitu? ((So sorry aku gabisa mencerna wkwk))

      Nggak gaje kok kakbel ini tuh, kalo dugaan (?)aku bener kakbel mikirnya bisa aja gitu sampai dapet ide nangis bukan ngeluarin air mata 😄😄 hehe

      Kip raiting ya kak bellaaa ^^ cheers :))

      Like

      1. Washfa! Haha iya kamu bener kok tangisan pamannya bukan air mata tapi … pelangi. Tapi memang ini fantasy kok jadi walaupun kamu ngeh-nya petir itu tidak masalah. Dan santai aja, itu bukan kamu yang nggak bisa mencerna tapi yah … emang gitu hahahahaha.

        Terus sepertinya rancu sama yang efek tersengat listrik, ya? Sebenernya itu efek yang mereka rasain kalau nangis, fa, yang berakhir memancarkan pelangi itu tadi. Masih bingung gak masih bingung gak? Heu yang sabar ya, fa, yang nulis absurd ya tulisannya absurd gini. :”))

        Yehey terima kasih, washfaaaa, sudah mampiiir! ^^

        Like

    2. bellaaaaaaaaaaaaaaaa nulis fantasy lagiiii! ❤ ❤

      ayooo bel banyak-banyakin nulis fantasy bcs aku suka banget fantasy kamu ihhhhh. kamu bisa aja kepikiran seseorang nangis pelangi tapi rasanya sakit kayak kesengat listrik. this is greaaaaat!

      keep writing, dearyyy! ❤

      Like

      1. vin tau gak aku kepikiran ini sebenernya karena kamu pernah bilang: “aku mau nangis pelangi aja.” lah berhubung aku tidak punya sekat yang membatasi dunia nyata dan khayalan jadinya ya begini deh huhu vin kapan ya aku bisa menghasilkan sesuatu yang berfaedah. :”)

        Like

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s